Thursday, May 29, 2008

Yang Ditanam Harus Disiram


“Harjono, ini Henk. Dan Henk, ini Harjono, dia baru mobilisasi hari ini. Henk adalah project economist kita. Dan Harjono akan membantu Henk,” kata Wim ketika kami sudah sampai di kamar kerja Henk. “Saya harap kalian berdua dapat bekerja sama sebaik-baiknya.” Saya dan Henk bersalaman. Tangannya terasa basah. Bagi orang Belanda, udara pagi di Jakarta itu mungkin sudah terasa panas.

“Oke … secara garis besar tugas kalian sudah tertulis dalam terms of reference dan technical proposal. Pembagian tugas di antara kalian, saya serahkan pada kalian berdua. Henk, kamu sudah berkali-kali bekerja sama dengan saya, jadi kamu pasti sudah tahu apa yang saya inginkan. Saya tidak akan banyak mengawasi pekerjaan kamu, saya sendiri akan sibuk dengan tugas saya sebagai team leader. Saya harap kamu bisa memanfaatkan waktu Jon semaksimal mungkin. Latihlah dia sebaik-baiknya sehingga dia mampu mengerjakan tugas kamu. Dengan demikian, kalau kamu harus pulang lebih cepat ke Belanda seperti yang kamu bilang kemarin, pastikan tidak akan ada orang di Jakarta yang merasa kehilangan kamu.”

Setelah Wim meninggalkan kamar kerja Henk, saya duduk di depan meja dia, lalu mulai berbasa-basi. Pertanyaan standar pemecah es saya ajukan, seperti “kapan dari Belanda”, “apakah ini kali pertama datang ke Jakarta”, “sudah lama kerja di perusahaan ini” dan sebagainya.

“Saya sudah beberapa kali datang ke Indonesia. Saya sudah mengunjungi Palembang, Pemalang, dan Bandar Lampung. Saya ini layaknya seperti serdadu bayaran, kalau kantor pusat bilang saya diperlukan di Jakarta, saya pergi ke Jakarta. Kalau saya disuruh ke Laos, saya pergi ke Laos,” kata Henk.

“Saya ingin sekali seperti itu, bisa melihat tempat-tempat di dunia.”

“Bagaimana saya harus memanggilmu? Apakah Jon … seperti pada John?” Henk mengubah pokok pembicaraan.

“Ya … panggil saya Jon saja, seperti pada John.Teman-teman ekspatriat saya biasa memanggil saya begitu. Lebih mudah.”

“Mau minum kopi?”

“Kopi boleh. Kopi tubruk, hitam dan manis.”

Henk keluar kamar, menyuruh seseorang membuat kopi untuk saya, dan dia menambah kopi pada cangkirnya sendiri.

“Kamu sudah berkeluarga Jon?” Henk bertanya sekembalinya dari dapur.

“Belum. Kenapa? Kamu punya calon untuk saya.” Arah pembicaraan Henk rasanya makin jauh dari pokok pertama, entah menuju kemana.

“Bukan … bukan itu maksud saya. Tadi kamu membayangkan bahwa bepergian ke tempat-tempat di dunia, dalam rangka pekerjaan, itu menyenangkan. Kalau kamu belum berkeluarga, kamu tidak akan bisa membayangkan masalah seperti yang saya alami sekarang.”

“Oh ..mudah-mudahan kamu bukan bermaksud melarang saya kawin,” sambut saya bercanda, sambil menerima secangkir kopi panas dari seorang bujang kantor.

“Sebagai project economist, saya selalu mendapat penugasan jangka pendek. Paling lama enam bulan di tiap proyek. Menurut peraturan perusahaan, orang dengan penugasan pendek tidak berhak mendapat rumah. Hanya satu kamar kecil di mes. Paling untung saya mendapat kamar hotel. Dengan demikian saya tidak pernah bisa membawa isteri saya. Isteri mana yang mau tinggal di hotel berbulan-bulan. Lagi pula tunjangan harian saya hanya cukup untuk satu orang.”

“Jadi kamu merasa bersalah …,” kata saya sambil menyeruput kopi panas.

“Kalau saya mengaku bersalah, dan lalu isteri saya mengerti, tidak ada persoalan. Sekarang isteri saya mau bercerai dengan alasan saya jarang di rumah. Bayangkan, walaupun penugasan dalam tiap proyek hanya dua atau tiga bulan saja misalnya, tapi kalau dalam setahun ada empat proyek yang berurutan maka praktis saya ada dirumah sendiri hanya sekitar satu bulan. Tahun lalu hanya 20 hari. Kalau saya perhatikan, banyak staff dengan profesi seperti saya yang rumah-tangganya gagal.”

“Apakah kamu yakin profesi yang lain tidak punya masalah yang sama?”

“Wim adalah seorang akhli pertanian. Dia harus ada di proyek selama proyek itu berjalan. Dengan demikian dia diberi rumah sehingga bisa membawa isteri. Bahkan anaknya pun dibawa dan disekolahkan disini atas tanggungan perusahaan. Dia bisa tenang bekerja dan isterinya cukup bahagia.”

Hening sejenak. Saya punya kesempatan untuk menyeruput kopi lagi.

“Kamu merokok Jon?”

“Tidak”

“Oke kamu bekerja disini saja, satu kamar dengan saya. Kamar ini cukup besar untuk kita berdua. Jadi kamu bisa membaca buku-buku saya kapan saja. Dan komunikasi kita pun akan lebih efektif.”

Hari pertama saya dihiasi dengan cerita mengenai persoalan pribadi mitra kerja. Tapi ternyata hal itu tidak mengganggu kinerja kami pada hari-hari selanjutnya. Kami merupakan bagian dari tim yang mengerjakan studi evaluasi satu proyek transmigrasi yang dilaksanakan di atas tanah bekas rawa pasang-surut. Sebenarnya, dengan satu kali melihat warna daun dari tanaman yang tumbuh halaman rumah transmigran, seorang akhli ilmu tanah atau akhli agronomi akan tahu bahwa pencucian zat beracun peninggalan rawa pasang-surut, berlangsung tidak sempurna. Petani akan menderita dalam kemiskinan kalau semua tanamannya kena racun, karena panennya akan jelek atau malah gagal. Penelitian yang seksama perlu dilakukan untuk mencari sumber kesalahan.

Akhli teknik sipil dalam tim kami akan mengadakan koreksi atas infrastruktur yang ada. Kadang-kadang kesalahan hanya terjadi pada pengoperasian pintu air.

Akhli agro-ekonomi akan membuat beberapa simulasi pola tanam. Pola tanam yang menghasilkan pendapatan terbesar pada petani, akan diusulkan untuk diterapkan. Sedangkan orang seperti Henk akan menganalisa apakah peningkatan pendapatan petani secara total, setimpal dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan infrastruktur dan lain-lain itu.

Perusahaan konsultan yang mengirim Henk banyak mengerjakan proyek seperti ini di banyak negara berkembang. Karena ada ketentuan dari pemerintah Indonesia bahwa konsultan asing harus bermitra dengan konsultan lokal, maka masuklah saya ke dalam tim melalui jalur konsultan lokal.

<>

“Jon, saya akan pulang ke Belanda hari Jumat yang akan datang,” kata Henk suatu sore.

“Cepat sekali. Menurut jadwal, waktu kamu seharusnya masih ada dua bulan lagi.”

“Yaaa, kamu sudah tahu persoalan rumah tangga saya. Ternyata makin memburuk. Kami bicara di telepon tadi malam. Mudah-mudahan kepulangan saya ke Belanda akan menyelamatkan perkawinan saya. Wim sudah setuju saya pulang lebih cepat. Saya yakin kamu sudah tahu apa yang harus kamu kerjakan selama saya tidak ada. Kalau masih ada yang kamu belum mengerti, kamu masih punya waktu tiga hari untuk bertanya. Kamu harus bisa melanjutkan pekerjaan kita ini sendirian. ”

“Oke, saya akan berusaha sebaik saya bisa.”

“Menurut saya bahasa Inggeris-mu bagus. Laporanmu juga bagus. Jadi laporanmu bisa langsung menjadi laporan resmi dan final. Mungkin saja Wim ingin membaca dulu, tapi dia juga sangat sibuk.”

Hari Jumat, sekitar pukul 2 sore Henk sudah meninggalkan kantor, pergi menuju bandar udara Cengkareng. Pukul 3, Jan, seorang akhli teknik sipil, masuk ke kamar saya sambil tersenyum-senyum. “Henk berusaha untuk menyelamatkan perahu yang mau tenggelam…he…he …he,” katanya.

Jan kelihatannya sudah tahu apa yang terjadi pada Henk. Dia sekarang sedang berusaha mencari teman untuk membicarakan gosip tentang Henk. Dan sayalah orang yang sedang diburu oleh dia. Kelihatannya dia sudah tahu cukup banyak, jadi saya bisa meladeninya tanpa harus merasa bersalah pada Henk. Di tangan Jan ada secangkir kopi masih panas dan masih penuh, jelas dia berniat untuk berbicara lama dengan saya.

“Kalau kamu jadi dia, apa yang akan kamu lakukan? Pulang ke Belanda juga kan?” pancing saya.

“Tapi itu tidak akan terjadi pada saya. Isteri saya ada disini … he … he … he.” Jan duduk di kursi, cangkirnya diletakkan di atas meja. Lalu dia mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Jan sebenarnya jarang ke kamar saya. Biasanya Henk yang mendatangi Jan di kamar Jan. Henk tidak akan membiarkan ada orang lain datang dan merokok di kamarnya.

Ada dua hal yang membuat hal ini tidak akan terjadi pada kamu. Pertama kamu akhli teknik sipil, sehingga penugasanmu selalu jangka panjang. Kamu mendapat rumah dari perusahaan sehingga isterimu bisa datang menemani kamu. Kedua, isterimu orang Palembang, jadi dia pasti lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan Jakarta.”

“Jon, kamu sudah terpengaruh oleh perkataan Henk. Dia berusaha menyembunyikan kelemahannya. Menurut saya lama penugasan tidak banyak pengaruhnya terhadap keutuhan rumah-tangga. Persoalan dia timbul oleh karena dia tidak bisa melakukan manajemen yang memadai pada rumah tangganya.”

“Coba sebutkan contoh project economist lain yang rumah tangganya utuh? Kalau rata-rata project economist keluarganya utuh, artinya tidak ada pengaruh dari lama penugasan pada keutuhan rumah tangga.”

“Saya tidak punya contoh yang seperti itu, tapi saya punya contoh lain. Akhli ilmu tanah kita, Joop, dia sering mendapat penugasan panjang tapi isterinya tidak pernah dibawa. Dia cuma pulang ke Belanda setiap Natal. Tapi rumah tangganya tetap utuh.”

“Mengapa isterinya tidak mau ikut? Apakah isterinya bekerja?” tanya saya.

“Isterinya memang bekerja. Tapi Joop bisa menangani isterinya dengan baik.”

“Selama disini kebutuhan Joop bukan hanya makan. Joop mungkin perlu ketemu isterinya sekali setiap minggu. Bagaimana dia mengatasinya?” tanya saya

“Maksud kamu apa, Joop perlu ketemu sekali setiap minggu?”

“Kamu tahulah. Isteri dan suami, apa yang biasa dilakukan.”

“Oh … yang itu. Dia punya teman yang baik disini.”

“Semacam pacar?”

“Dulu dia punya semacam pacar. Tapi hubungan seperti itu biasanya melibatkan emosi. Waktu berpisah keduanya akan bersedih.”

“Kalau temannya yang sekarang … bukan pacar namanya?” tanya saya.

“Yaaa … dengan gadis temannya yang sekarang Joop pergi bersama untuk bergembira. Tapi gadis temannya itu boleh pergi dengan laki-laki lain.”

“Bagaimana dengan isterinya? Pasti dia perlu juga Joop sebagai laki-laki, bukan? Apakah Joop akan berdiam diri kalau isterinya pergi dengan laki-laki lain?”

“Joop dan isterinya adalah pasangan yang sangat lain, Jon. Api mereka sudah padam, mungkin karena minyaknya sudah habis. Mungkin terakhir kali mereka melakukannya 20 tahun yang lalu. Joop disini juga tidak pernah melakukannya, baik itu dengan gadis pacarnya, atau gadis teman biasa. Saya sudah bilang kepada Joop, dari pada pergi meghamburkan uang dengan gadis-gadis yang hanya akan dipandanginya saja, lebih dia membeli majalah Playboy atau Penthouse.”

“Kasus Joop tidak membuktikan apa-apa. Kalau isterinya tidak punya keinginan lagi untuk melakukan hal itu, dia tidak akan keberatan hidup berpisah sampai sebelas bulan setiap tahun. Apakah mereka punya anak?”

“Mereka punya satu anak. Mungkin mereka cukup sering melakukannya ketika mereka masih muda.”

“Atau ini anak adopsi? Apakah anaknya mirip dengan Joop?”

“He … he … he … saya tahu arah pertanyaanmu.”

“Saya lihat Wim tidak punya persoalan rumah tangga. Isterinya, orang Belanda juga, ikut datang ke Jakarta. Waktu kita berpesta di rumah Wim, saya lihat mereka seperti pasangan yang berbahagia. Ini bukti bahwa kalau orang Belanda membawa isterinya ke Jakarta, walaupun mereka tinggal lama disini, mereka akan hidup bahagia.”

“Mudah-mudahan mereka berbahagia selamanya … he … he …he. Sudah berapa lama kamu bekerja disini, Jon? Paling lama dua bulan. Sudah berani membuat kesimpulan rupanya … he… he …he.”

“Tapi kesimpulan saya tidak salah ‘kan?”

“Menurut saya yang paling ideal untuk laki-laki Belanda adalah kawin dengan wanita Indonesia. Seperti saya inilah.”

“Sudah berapa lama kamu menikah dengan orang Palembang itu, Jan? Paling lama enam tahun. Sudah berani membuat kesimpulan bahwa kamu akan bahagia selama-lamanya … he … he … he.”

“Eh itu perkataan saya tadi … kamu tidak boleh pakai … he … he … he,” kata Jan. “Tapi saya punya beberapa contoh laki-laki Belanda bahagia yang lain. Saya akan ambil nama-nama yang kamu kenal. Pieter dulu bercerai dengan isteri Belandanya, karena isterinya main gila dengan laki-laki lain di Belanda selagi Pieter di Indonesia. Lalu Pieter kawin dengan gadis Lampung. Sekarang dia hidup bahagia. Pieter adalah menantu kesayangan mertua, dan orang tua Pieter sangat sayang pada gadis Lampung menantunya itu.”

“Saya pernah ketemu dengan Pieter sekeluarga waktu pesta di rumah Wim.”

“Lalu, Hans tua … dulu lama menduda. Dulu dia ditaksir oleh Siska, si ratu diskotik. Saya tahu Siska bukan gadis idaman Hans. Akhirnya Hans kawin dengan Irah gadis Pacitan. Saya yakin Irah adalah persis seperti gadis idaman Hans.”

“Memangnya seperti apa gadis idaman Hans?” tanya saya.

“Hans perlu gadis yang mengabdi pada suami. Bisa memijat kalau suami sedang lelah. Bisa memasak makanan yang enak. Menjaga pakaian suami agar tetap bersih dan disetrika rapi. Mengurus rumah sehingga nyaman dihuni.”

“Bagaimana Hans mengetahui bahwa Irah memenuhi persyaratan itu?”

“Dulu Irah adalah pegawai di mes. Dia memasak untuk semua tamu, mencuci dan membersihkan mes. Disitulah mereka ketemu.”

“Kalau tidak salah Hans sekarang tidak lagi bekerja. Dia sudah pensiun. Tapi saya sempat berkenalan dengan dia sewaktu pesta di rumah Wim. Hans sedang ada di Indonesia waktu itu.”

“Ya … waktu itu mereka baru kembali dari Pacitan. Kamu menyebutnya mudik. Sekarang mereka sudah kembali lagi ke Belanda, bersama terasi, jengkol, petai, bumbu pecel, kecap, oncom dan lain-lain. Sebenarnya sebagian dari barang-barang itu sudah tersedia di toko-toko di Belanda. Tapi mungkin keluarga Irah ingin memberi oleh-oleh.”

“Apakah kamu mendapatkan gadis idaman yang kamu cari?”

“Ya, Hans, Pieter dan saya mendapat gadis yang kami idamkan. Isteri saya dan isteri Pieter berasal dari golongan sosial-ekonomi yang lebih tinggi dari Irah sebenarnya. Mertua saya malah biasa berbicara bahasa Belanda dengan saya. Tapi pada prinsipnya mereka punya sifat yang sama dengan Irah, ingin membahagiakan suami. Tidak membantah kata-kata suami. Dan kami, kaum laki-laki membalas pengabdian itu dengan kesetiaan, perlindungan materi dan jaminan bahwa tidak akan ada kekerasan dalam rumah tangga, apapun itu bentuknya.”

“Apakah kamu akan memberi saran pada Henk …untuk mengambil gadis Indonesia sebagai isteri? He … he … he …. Oke Jan, sudah waktunya kita pulang. Kita bekerja lagi besok.”

“Gagasan yang bagus. Saya kira Wim juga perlu nasihat yang sama … he … he … he.”

<>

Ada waktunya kami bersantai membicarakan gosip mengenai siapa saja. Tapi pada waktu selebihnya, yang jauh lebih banyak, kami bekerja keras untuk proyek. Setelah kepergian Henk, saya diperbantukan disana-sini dalam proyek yang sama. Tidak ada yang keberatan dengan penambahan waktu saya karena remunerasi untuk pegawai lokal sangat rendah. Dengan demikian saya mendapat tambahan waktu hampir setahun. Ketika Boen datang tiga bulan sebelum proyek ini berakhir, saya masih ada disitu. Boen menggantikan Hans. Dia adalah seorang warga Belanda keturunan Cina, kelahiran Indonesia.

Sekitar dua tahun setelah proyek berakhir, saya makan di Pasaraya. Jan lewat di dekat meja saya. Ketika saya ajak dia untuk berbagi meja, dia mau. Senyum yang dulu selalu menghias wajahnya, kini hilang. Bunyi he he he yang dulu sering terdengar setiap kali dia membicarakan gosip, kini tidak terdengar lagi.

”Henk sudah bercerai. Wim juga bercerai dengan isteri Belandanya. Sekarang dia sering telihat jalan bersama Ismaniar. Pegawai di Departemen PU. Punya gelar MA dari Amerika. Menurut Wim, mereka akan kawin,” Jan berusaha membuat saya up to date.

“Ya … saya masih ingat Ismaniar. Ini di antara kita saja, sebagai sesama laki-laki, Ismaniar itu memang terlihat intelek, tapi dia tidak seksi dan saya yakin dia tidak bisa memasak, memijat atau menyetrika kemeja Wim.”

“Jon, kita harus selalu memperbaharui cara pandang kita. Yang dicari oleh Wim dari seorang wanita, kelihatannya berbeda dengan saya atau laki-laki Belanda lain. Dengan membandingkan bekas isteri Wim dengan Ismaniar, saya mempunyai dugaan bahwa Wim mencari teman hidup yang juga bisa jadi teman mengobrol mengenai topik-topik yang intelek, seperti kebijakan ekonomi, politik, perdagangan internasional dan sejenisnya.”

“Kamu menceritakan Wim yang akan kawin lagi, dengan wajah murung seperti itu. Apakah kamu merasa kecewa?” tanya saya sambil agak bercanda.

“Jon … ternyata apa yang dulu menimpa Henk … kini menimpa saya juga. Saya akan bercerai.”

“Apa? Bukankah dia wanita idamanmu?”

“Tadinya saya menyangka demikian juga.”

“Apa yang terjadi sehingga kamu memutuskan akan bercerai?”

“Ternyata dia itu pemarah berat. Kalau sudah marah dia akan melemparkan benda-benda keras ke arah saya. Atau dia langsung memukul dengan tangannya. Itu bukan situasi rumah yang saya idamkan.”

“Lalu … apakah kamu masih berpikir bahwa sebaiknya laki-laki Belanda kawin dengan wanita Indonesia?” tanya saya.

“Saya belum berubah mengenai yang itu. Saya akan menghubungi Hans, mudah-mudahan Irah mempunyai saudara perempuan.”

Kami berjabat tangan, lalu berpisah.

Tuesday, May 27, 2008

Ada Kehidupan Hangat di Negeri Salju


Hari Sabtu, pagi-pagi sekali sambil menggigil saya menelepon Emil. Sebelumnya, saya lihat dari jendela kamar, salju sudah menutupi jalan. Di beberapa bagian, salju pasti sudah menjadi es sehingga licin kalau diinjak.
“Selamat pagi. Bisa bicara dengan Emil?”, tanya saya ketika telepon sudah tersambung.
“Tentu bisa. Siapa ini?” Lelaki yang mengangkat telepon di seberang sana bertanya dengan suara bariton dan terdengar jantan, pasti bukan Emil. Walaupun fisiknya laki-laki, gerak-gerik Emil dan cara bicaranya lebih mirip perempuan.
“Saya … eeeh … seorang penghuni kamar di depat Station Den Haag.”
“Tunggu sebentar.” Tidak lama kemudian Emil bicara di telepon.
“Selamat pagi … apa yang bisa saya bantu. Emil disini. Ada masalah dengan kamarnya?”
“Persis. Saya Bambang. Pemanas di kamar saya rusak tadi malam. Saya hampir mati kedinginan. Tolong dibetulkan pagi ini, segeralah Emil.”
“Saya tidak bisa pagi ini. Saya sudah punya janji. Tapi saya pasti akan datang sore nanti. Jangan khawatir nanti malam pemanas itu akan bisa kamu pakai lagi.”
“Tapi bagaimana saya bisa bertahan hidup siang ini tanpa pemanas? Salju sudah banyak di luar. Tolonglah. Perbaikilah pagi ini.”
Sebenarnya siang itu saya ingin memakai pemanas itu untuk mengeringkan pakaian saya. Tapi alasan itu urung saya kemukakan pada Emil. Orang Srilangka di kamar sebelah bilang bahwa Emil pasti tidak suka jika pemanas kamar dipakai untuk mengeringkan pakaian yang baru dicuci. Biasanya pemanas akan cepat rusak, katanya. Mungkin itu juga yang menyebabkan pemanas di kamar saya itu rusak tadi subuh.
“Bambang, siang ini kamu pergilah melihat-lihat kota Den Haag. Kamu masih muda harus banyak melihat. Oke? Jangan khawatir, saya akan mengurus kamar kalian baik-baik. Nanti sore pemanas akan saya perbaiki. Mungkin juga saya datang lebih siang, kalau pertemuan saya pagi ini cepat selesai.” Dia lalu menutup telepon.
Saya kecewa dengan penolakan itu. Hari Sabtu sudah saya jadwalkan sebagai hari mencuci. Apa yang akan dikatakan orang jika melihat saya berbaju kotor atau kusut. Kalau saya berjalan di samping Raymond orang Ambon yang perlente itu, kesenjangan akan terlihat jelas. Jadi … tekad saya … pakaian kotor dari seminggu terakhir ini, harus dicuci hari Sabtu ini juga, bagaimanapun caranya. Saya tidak bisa mengerjakannya pada hari Minggu, karena saya sudah punya acara lain. Di dapur, saya bertemu dengan teman se-apartemen, dua orang dari Srilangka. Mendengar keluhan dari saya mereka menawarkan pemanasnya untuk dipakai. Tapi saya tolak. Besar kemungkinan, pemanas di kamar saya dan di kamar mereka umurnya sama. Kalau yang di kamar saya hari ini rusak, bisa saja pemanas di kamar mereka dalam hitungan jam akan rusak juga. Kalau janji Emil untuk memperbaiki pemanas saya sore ini meleset, dan pemanas di kamar sebelah juga rusak siang ini, maka seluruh apartemen akan dingin total nanti malam. Tidak ada tempat untuk mengungsi. Kesimpulannya, memakai pemanas mereka untuk mengeringkan cucian saya, bukan keputusan yang baik.
Jadi akhirnya pagi itu saya pergi membawa tas berisi pakaian kotor menuju penatu terdekat. Saya pernah lewat di depannya beberapa kali, jadi saya tahu kemana harus pergi. Secara umum saya sudah tahu bahwa mesin cuci otomatis dan self service itu akan beroperasi setelah kita masukan uang koin tertentu. Tapi saya terkejut melihat petunjuk pemakaian yang panjangnya sampai delapan baris. Dalam bahasa Belanda pula. Ooh … kalau tahu akan begini, saya tadi akan membawa kamus bahasa Belanda. Saya tertegun lama di depan satu mesin cuci, memelototi petunjuk itu, mengira-ngira apa artinya. Apakah saya harus kembali ke apartemen untuk mengambil kamus dulu? Apakah akan aman kalau saya tinggalkan tas disini? Bagaimana saya menjelaskan pada pemilik penatu ini tentang apa yang terjadi dengan saya? Belum tentu juga dia bisa mengerti bahasa Inggeris saya. Sementara bahasa Belanda saya terbatas pada kata kerja, kata benda atau kata sifat. Struktur kalimat saya masih acak-acakan. Ah … memalukan sekali.
Tiba-tiba seorang lelaki mendekati saya. Mungkin dia sedari tadi memperhatikan saya dan memahami masalah saya. Dia berusaha bicara walaupun terbata-bata, kelihatannya dia punya hambatan dengan otot bibir atau lidahnya. Saya punya perasaan, orang ini sedang berusaha menjelaskan cara memakai mesin ini. Saya punya cukup kosa kata bahasa Belanda, tapi tak satupun kata yang bisa saya tangkap dari orang ini. Di tanah air, kalau bertemu dengan orang berbicara seperti ini, saya akan menyebut orang ini terbelakang. Tapi karena wajah laki-laki ini mengingatkan saya pada Stephen Hawking, saya jadi khawatir kata “terbelakang” malah lebih cocok diterapkan pada saya. Mungkin dia menjadi tidak sabar melihat saya lambat mengerti apa yang dia katakan. Lalu dia menyederhanakan instruksinya. Tangan saya dituntun ke tempat saya bisa memperoleh deterjen. Lalu saya disuruh memasukan pakaian kotor ke mesin. Lalu isi air. Lalu masukan deterjen. Lalu masukan koin. Lalu tekan satu kenop. Ngeeeeng … mesin cuci mulai mencuci baju saya.
Setelah mengerti cara mengoperasikan mesin yang ini, maka mengoperasikan mesin pengering akan mudah saja. Stephen Hawking terlihat sibuk dengan cuciannya sendiri. Saya juga merasa tidak akan ada gunanya mencoba beramah-tamah kepadanya, karena jelas ada kesenjangan komunikasi, terlebih untuk konsep-konsep yang lebih rumit jika dibanding menyalakan mesin cuci. Jadi saya sibukkan diri saya sendiri dengan membaca buku yang saya bawa. Tapi setelah selesai dengan mesin pengering, sebelum saya pulang, saya menghampiri dia.
“Terima kasih. Kamu baru saja menyelamatkan saya”, ucap saya dalam bahasa Indonesia dan Inggeris, sambil menjabat erat tangan laki-laki itu dengan tulus. Saya yakin dia mengerti rasa penghargaan saya, dalam bahasa apapun saya mengucapkannya. Saya pulang berjalan pulang ke apartemen dengan membawa baju bersih dan kering, dan tangan kanan yang masih hangat bekas dipegang oleh Stephen Hawking.

Thursday, May 15, 2008

Laki-laki Tua Penyelamat Hidup


Cuaca di Den Haag tidak ramah, suhu di bawah nol. Semua terlihat putih di jalan. Semua air yang terkena udara luar akan beku. Sebaiknya kita tidak membuka mulut kalau sedang di luar, atau lidah akan kelu. Seorang Belanda Indo kenalan saya bilang bahwa kalau masih baru di Belanda, dalam musim dingin seperti ini sebaiknya tidak pergi ke Belanda Utara, karena disana lebih dingin lagi. Di Texel misalnya, kalau telinga lupa ditutup syal sehingga langsung terkena angin, sebentar saja telinga sudah menjadi regas seperti kerupuk.

Inilah hal yang paling tidak nyaman kalau orang dari negara tropis datang ke Belanda pada musim dingin. Mereka harus membawa koper besar, bukan karena genit membawa pakaian banyak-banyak agar bisa setiap hari bersalin dua atau tiga kali. Melainkan, mereka harus membawa pakaian yang tebal-tebal. Lain lagi kalau sebaliknya. Orang Belanda yang datang ke Indonesia bahkan kebanyakan tidak membawa jas. Kalaupun mereka bawa, hanya jas tropis tipis saja, yang tidak setebal jas wol. Dengan demikian, kopernya pun kecil saja.

Ketidak-nyamanan yang lain adalah bahwa kita harus pakai dan buka baju hangat kita ganti berganti, berkali-kali dalam satu hari. Karena dalam musim dingin udara di luar begitu dingin dan angin bertiup kencang, maka sebelum keluar rumah kita harus melaksanakan upacara rutin : memakai berlapis-lapis baju dan perlengkapan. Setelah baju dalam dan kemeja, laki-laki akan memakai rompi. Lalu syal diikatkan dengan rapih dan kencang tapi tidak mencekik. Lalu overcoat yang panjangnya sampai ke lutut. Lalu sarung tangan. Terakhir, topi dipasang dengan erat agar tidak terbang. Hampir tidak ada area pada kulit yang terpapar pada udara luar Kalau tidak begitu, mereka bilang angin dingin akan membuat kita jatuh sakit.

Sebelum kita masuk ke rumah orang, kantor atau restoran, kita harus melakukan upacara membuka lapisan-lapisan baju tersebut. Overcoat, topi dan syal biasanya ditanggalkan di dekat pintu masuk, karena di dalam ruangan mereka sudah memasang pemanas.

“Apakah semua barang ini milikmu, Bambang? Bukankah di Indonesia tidak ada salju? Kamu tidak harus memilikinya,” kata seorang Belanda berkelakar ketika melihat saya membuka overcoat, syal, dan sarung tangan.

“Saya lihat kamu punya sunglasess, padahal selama dua hari saya disini, tidak pernah melihat matahari,” balas saya.

Di kantor, hanya kalau ada menerima tamu penting mereka memakai jas. Kebanyakan orang hanya memakai kemeja di ruangan kerjanya. Di kantor atau di rumah, kalau mau menghemat rekening energi pemanas, suhu ruangan bisa sedikit diturunkan, dan kita memakai vest atau mantel.

Hari itu hari pertama saya tinggal di apartemen, setelah beberapa hari menginap di rumah bibinya Raymond di Rijswijk. Cuaca di Den Haag sedang tidak ramah. Semua air yang terkena udara luar, akan membeku. Tapi saya harus keluar membeli lauk untuk makan malam. Orang Srilangka di kamar sebelah berjanji akan memberi saya nasi setiap makan malam, dengan syarat saya membuatkan kopi untuk mereka setiap pagi. Jadi saya harus mencari lauknya sendiri.

Waktu pulang dari Delft tadi sore saya melihat satu kios yang menjual ikan matang di dekat setasiun. Malahan sudah melihat-lihat jenis ikan apa saja yang dia jual, bagaimana memasaknya dan berapa harganya. Seharusnya waktu itulah saya membeli ikan untuk makan malam. Tapi waktu itu uang di dompet tidak cukup, sehingga saya harus pulang dulu ke apartemen untuk mengambil uang, dan pergi lagi keluar.

Jarak ke kios penjual ikan matang tidak begitu jauh, tapi dalam cuaca seperti itu terasa lebih jauh. Ketika berjalan, kedua tangan saya masuk ke saku celana, dan lengan sepanjangnya rapat ke badan. Saya berusaha mengacuhkan situasi sekeliling, tapi yang muncul dalam pikiran malahan puisi tulisan Wing Karjo yang dijadikan syair lagu oleh Bimbo. Judul puisi itu adalah Salju.

Kemana akan pergi

Mencari matahari

Ketika salju turun

Pohon kehilangan daun

Kemana akan jalan

Mencari lindungan

Ketika tubuh kuyup

Dan pintu tertutup

Kemana akan lari

Mencari api

Ketika bara hati

Padam tak berarti

Saya tidak perlu waktu lama untuk memilih dan membeli ikan matang itu, karena sebelumnya sudah pernah kesana.

Waktu kembali ke apartemen, sebelum masuk ke pintu kamar, saya harus melalui dua pintu. Disinilah, di pintu luar, terjadi persoalan. Saya sudah lakukan semua yang diajarkan oleh Emil si pengelola gedung. Dia bilang, anak kunci harus dimasukkan ke lubangnya, lalu dimiringkan ke kiri, putar anak kunci setengah lingkaran ke kanan, miringkan ke kanan, lalu putar ke kanan lagi sampai ada bunyi klik. Setelah dicoba delapan kali, selama sepuluh menit, tidak ada tanda pintu bisa dibuka. Angin dingin masuk lewat hidung lalu menusuk di dada. Bernafas menjadi sulit. Saya lalu berusaha bernafas lewat mulut agar lebih banyak oksigen yang bisa masuk. Tapi ini malah membuat lidah dan mulut terasa kelu. Bernafas menjadi makin sulit. Oh … Tuhan … akankah saya mati kedinginan dan kehabisan nafas di depan pintu ini?

Tiba-tiba satu tangan berkulit keriput membantu saya memutar anak kunci. Seorang laki-laki tua berkulit putih, sambil menggumamkan kata-kata yang tidak saya mengerti, menggerak-gerakan anak kunci ke kanan dan ke kiri, lalu memutarnya … ada bunyi klik … didorong … dan pintu pun terbuka. Saya seperti loncat masuk ke dalam memburu udara hangat. Setelah cukup udara hangat masuk ke mulut maka cukup juga oksigen masuk kedalam otak, saya baru sadar bahwa saya belum mengucapkan terima kasih kepada laki-laki tua tadi. Saya membuka pintu itu lagi, menengok ke kanan dan ke kiri, tapi laki-laki itu tidak kelihatan lagi. Aneh … dengan umur setua itu, tidak mungkin secepat itu dia mencapai ujung blok dan berbelok. Mungkinkah dia malaikat yang diutus Tuhan untuk menolong saya? Tapi ah … itu kan cerita orang yang pulang dari Mekah, bukan cerita dari orang yang pulang dari Belanda. Siapapun dia … saya akan berterima kasih nanti malam … lewat Tuhan.

Tuesday, May 13, 2008

Ada Tempat di Masyarakat bagi Mereka yang Terhambat

Dalam dua bulan terakhir saya beberapa kali lewat di jalan raya lama JakartaBogor. Di antara simpangan ke Cijantung dan simpangan ke Ciracas, ada simpangan kekiri. Jalannya kecil saja. Disitu saya melihat seorang mat cepek laki-laki mengatur arus mobil yang masuk dan ke luar dari jalan kecil tersebut. Yang dimaksud mat cepek adalah orang swasta yang berinisiatif mengatur lalu lintas di simpangan tanpa lampu lalu-lintas, agar semua kendaraan mempunyai kesempatan untuk lewat tanpa harus menunggu terlalu lama.

Yang membuat saya tertarik adalah kondisi orang tersebut yang cacat. Kaki dari lutut ke bawah, tidak tumbuh secara sempurna. Di ujung kakinya masih terlihat beberapa jarinya menyembul. Mungkin dia korban thaledomit, folio atau yang lain. Sebetulnya dengan tinggi badan dia yang sama dengan anak-anak berumur 10 tahun, orang itu sulit terlihat oleh pengendara mobil karena penglihatan pengendara mobil terhalang dashboard atau kap mesin (kalau mobilnya sedan). Dengan demikian, mat cepek ini mempunyai potensi lebih tinggi untuk tertabrak.

Saya beberapa kali melihat mobil berhenti lalu ada orang turun memberi laki-laki itu sejumlah uang, walaupun mobil itu sebenarnya tidak terlalu dibantu olehnya.

Penemuan ini menambah penemuan-penemuan saya sebelumnya, berkenaan dengan kasus sejenis. Di Jl. Tendean, Jakarta, tepatnya di tempat parkir Sekolah Tarakanita, saya suka melihat tukang parkir yang hanya mempunyai satu tangan. Area itu selalu ramai sewaktu anak-anak sekolah baru datang, dan sewaktu mereka mau pulang. Sekolah ini memang cukup diminati oleh warga kaya di Ibukota untuk menyekolahkan anaknya, buktinya banyak mobil yang datang mengantar dan menjemput anak sekolah. Padahal lahan parkir bisa dikatakan tidak ada, dan yang selama ini banyak dipakai untuk parkir adalah area milik jalan. Jadi sebenarnya agak sulit menemukan ruang untuk parkir. Oleh karena itulah peran tukang parkir cukup penting, yaitu untuk mengatur letak mobil agar pemakaian lahan seefisien mungkin, dan membantu agar pengendara mobil dapat masuk dan keluar dengan mudah.

Di satu vetshop sekitar McDonald Kemang, juga ada tukang parkir bertangan satu. Lahan parkir disini memang sempit. Mungkin hanya cukup untuk tiga atau empat mobil. Peranan tukang parkir disini antara lain adalah untuk pasang badan agar arus mobil dari arah McDonald bisa ditahan, sedemikian sehingga mobil yang mau belanja di vetshop dapat masuk dan keluar dari lahan parkir dengan mudah.

Saya jadi mempunyai kesimpulan awal bahwa masyarakat kita sebenarnya cukup bersahabat terhadap orang cacat. Terbukti beberapa orang cacat bisa mencari nafkah di jalanan. Dalam masyarakat yang tidak bersahabat, saya bayangkan kedudukan tiga orang cacat yang saya sebutkan tadi sudah direbut oleh orang beranggota badan lengkap. Masih banyak di negara kita orang yang beranggota badan lengkap, yang tidak mempunyai pekerjaan. Mereka bisa saja mengusir orang cacat itu dan lalu merebut pekerjaannya. Tapi ternyata tidak begitu.

Di satu bagian di Jakarta mungkin berlaku ”survival of the physical fittest”. Di bagian lain orang cacat bisa survive dengan caranya sendiri.

Saya pernah melihat pegawai Kentucky Fried Chicken yang pincang kakinya. Dia tidak melayani pembeli memang. Mungkin dia bekerja di dapur. Saya cuma melihatnya berjalan di antara meja-meja tempat pembeli sedang makan.

Mungkin juga ada perusahaan lain yang punya kebijakan untuk menerima orang cacat dalam satu kuota tertentu. Mungkin cuma saya saja yang belum melihatnya. Di Dunkin Donut misalnya, yang saya lihat hanya pelayan wanita dengan postur tubuh sempurna seperti pramugari. Di belakang rak-rak berisi donat mungkin ada orang cacat sedang bekerja.

<>

Saat ini perusahaan-perusahaan yang sudah maju, sudah biasa mendeskripsikan kebutuhan kompetensi jabatan. Berdasarkan kebutuhan kompetensi jabatan ini, lalu direkrut calon pegawai. Kalau kondisi fisik tidak menghalangi kompetensi yang diperlukan, kenapa harus menolak orang cacat?

Atau bisa juga dirancang beberapa jabatan yang tidak memerlukan kondisi fisik sempurna, demi untuk memberi kuota pada saudara-saudara kita yang cacat fisik. Ada satu perusahaan di Indonesia yang mayoritas karyawannya adalah orang cacat. Beberapa waktu yang lalu pengusahanya mendapat penghargaan internasional atas usahanya tersebut.

<>

Seorang profesor ahli agribisnis yang tinggal di Bogor, pernah menggerutu di depan mahasiswanya. Dia berkali-kali melihat orang beranggota badan sempurna menuntun orang buta, atau menggendong orang lumpuh, dan mereka meminta-minta sedekah di jalan. Dia bilang mengapa orang-orang yang beranggota badan lengkap tersebut tidak bekerja saja dan hasilnya dapat dipakai untuk menafkahi temannya yang cacat itu. Sebagai seorang ahli agribisnis rupanya dia tidak bisa menerima kalau seorang penganggur beralasan bahwa ”tidak ada lowongan kerja bagi dia”. Mungkin bagi pak profesor, tanah air kita mempunyai banyak lahan yang menunggu untuk diolah dan diusahakan, yaitu usaha dalam bidang agribisnis tepatnya. Mereka harus membuka lowongan kerja sendiri, bukan menunggu lowongan kerja datang dari orang lain.

Masih di Bogor, saya pernah melihat ketika lalu lintas sedang macet di sekitar Gunung Mas, ada orang cacat pada keempat anggota badannya sedang meminta-minta. Kalu dia bergerak, sekilas terlihat seperti laba-laba raksasa sedang berjalan dari mobil ke mobil. Surprisenya, di hari yang lain sekitar lima pengemis dengan cacat yang persis sama, berkerumun di lampu merah Gadog, menunggu belas kasihan dari pengendara mobil yang akan keluar dari jalan tol Jagorawi. Saya harus merasa surprise karena kok bisa begitu banyak manusia laba-laba yang tinggal di antara Gadog dan Puncak. Saya asumsikan mereka bukan orang dari jauh yang diangkut oleh semacam koordinator (sekaligus kolektor manusia laba-laba) untuk melakukan pekerjaan mengemis di antara Gadog – Puncak.

Saturday, May 10, 2008

Kim

Hari Senin, sekitar pukul 7. Telepon berdering.

“Bisa bicara dengan Ibu Felicia?”

“Saya sendiri …”

“Saya dari klinik … mau mengabarkan … Kim tidak bisa bertahan. Sekitar pukul 1 tadi malam dia pergi.”

“………,” saya kehilangan kata-kata.

“Ibu bisa ke klinik untuk melihatnya.”

“Ya …. saya akan segera kesana.”

<>

Kemarin sore dia berjalan perlahan menuju pintu dapur. Tubuhnya basah.

“Ya ampun Kim … apa yang terjadi? Kamu jatuh ya?” Saya cepat meraih handuk, lalu melilitkannya di tubuh Kim.

Kim duduk di lantai dekat pintu dapur. Saya bisa melihat benjolan sebesar telor bebek di dadanya, sebelah kanan bagian bawah. Saya jadi ikut duduk di dekatnya. Kuraba benjolan itu … terasa keras. Badannya menggigil, lalu menyenderkan badannya ke badan saya … berusaha menghangatkan badannya.

Tanpa mengerang dia berdiri lalu berjalan masuk ke rumah. Dengan susah payah dia naik ke sofa, dia merebahkan badannya disitu. Air di tubuhnya sudah pindah ke baju, ke celana, ke handuk, ke sofa. Mungkin air sudah mengambil kehangatan dari tubuhnya. Tubuhnya makin dingin. Kutawari dia minuman hangat, dia hanya diam. Mungkin benjolan di dadanya itu yang membuat dia enggan minum. Ya Tuhan … apa yang harus saya lakukan?

“Katakanlah Kim … apa yang terasa?”

Tanganku secara reflek megusap-ngusap benjolan itu ke arah bawah. Pelahan-lahan benjolan mengecil dan menghilang seperti masuk ke rongga perut.

Susah sekali menebak perasaan Kim, dia tidak mengeluh. Ekspresi wajahnya tetap sama. Apakah merasa lebih baik? Lebih buruk? Atau tetap? Tapi badannya makin dingin.

“Oke Kim … saya akan membawamu ke dokter.”

<>

“Suhu badannya sangat dingin. Termometer saya sampai tidak bergerak penunjukannya.”

“Hipotermia?” tanya saya sekenanya. “Tadi ada benjolan sekitar sini dok,” saya menunjuk sambil memberi gambaran dengan telunjuk tentang ukuran benjolan itu. Dokter lalu meraba bekas tempat benjolan itu, sementara tangan yang satunya lagi meraba bagian dada di sebelah yang lain. Dia tampak seperti membandingkan jumlah tulang iga di sebelah kiri dan kanan.

“Kayaknya tulang iganya patah. Saya anjurkan Ibu bawa Kim besok pagi ke rekan dokter senior saya, mungkin harus dibedah. Coba saya konsultasi dulu sama dia.” Dia lalu berusaha menghubungi rekannya itu, tapi mungkin pada hari Minggu dokter memakai nomer telepon yang lain. Hubungan tidak tersambung. Lalu dokter meraba dada Kim lagi.

“Saya foto ronsen dulu ya Bu.” Lalu dia keluar berjalan ke kamar sebelah, menyiapkan sesuatu sekitar 10 menit, lalu kembali.

“Oke Kim … difoto dulu.” Kami semua menuju ke kamar sebelah.

Setelah difoto, dokter memasang alat infus. Lalu dia keluar kamar untuk memproses foto ronsen. Saya mengusap-ngusap badan Kim yang tergolek kembali di meja pemeriksaan, berharap bisa memberi kehangatan pada Kim. Kotoran dari air got sebagian sudah pindah ke tangan saya … biarlah.

“Jangan sakit Kim. Kamu satu-satunya temanku.”

<>

“Ibu Felicia, dengan memperhatikan foto ronsen ini saya cukup yakin ada beberapa tulang iga Kim sudah patah atau hilang. Lalu diafragma Kim kemungkinan besar telah rusak. Jadi benjolan yang tadi Ibu lihat kemungkinan besar itu organ tubuh dari rongga perut. Lalu, karena diafragma rusak maka tekanan di rongga dada menjadi turun sehingga paru-paru sulit bekerja.”

“Kapan kira-kira patahnya atau hilangnya terjadi. Dan apa biasanya penyebabnya?”

“Sulit untuk memperkirakan kapan terjadinya dan apa penyebabnya kalau hanya dilihat dari luar. Tapi bisa disebabkan oleh benturan.”

“Saya anjurkan Kim tinggal dulu disini supaya bisa awasi. Jadi kalau ada apa-apa saya bisa segera ambil tindakan. ”

Dengan berat hati saya tinggalkan Kim. “Saya tinggalkan kamu disini bukan karena saya tidak sayang, tapi karena kamu akan ditangani oleh ahlinya. Besok saya kesini,” saya berbisik sambil mengusap kepalanya. Matanya yang terpejam, tidak membuka ketika saya pergi. Napasnya berat tapi ada.

<>

Kim biasanya menemani saya melewatkan waktu siang saat saya sendiri di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selagi saya menyetrika, saya biasa mendiskusikan cerita sinetron dengan Kim, atau membicarakan kabar-kabar tentang pribadi artisnya.

Kalau saya sedang duduk di sofa menonton tv, kadang-kadang dia ikut duduk. Sering terjadi, dia pelan-pelan menyentuhkan hidungnya ke tangan, lalu bergerak ke atas. Kalau sudah sampai ke leher biasanya saya mengibaskan tangan sambil berteriak mengusirnya :” Kim .. berhenti … geli. Kamu tidak sopan.” Kalau sudah diperlakukan seperti itu, dia lalu menghadapkan wajahnya ke tv. Tapi entah dia menontonnya atau apa.

Kalau suami saya sedang tidak mau diganggu dia, dia biasanya disuruh main di halaman, lalu pintu ditutup. Kalau hari sedang tidak begitu nyaman, biasanya dia datang ke jendela yang ada di samping meja tempat saya biasa mengetik. Dia tidak mengetuk jendela, tapi hanya berdiri di luar sambil memperlihatkan ekspresi minta dikasihani. Kalau sudah begitu saya tutup pintu kamar kerja saya, lalu saya biarkan dia masuk kamar lewat jendela. Saya biarkan dia bermain di dalam kamar. Dengan secarik kertas, atau sebuah kantong plastik dia bisa melewatkan waktu berjam-jam.

<>

Saya mengirim sms ke suami saya. Pendek saja, takut mengganggu konsentrasi dia dalam bekerja. “Mas, Kim meninggal.” Lalu dia membalas. “Kamu bisa menanganinya sendiri? Atau saya harus pulang?”. Saya balas lagi, “Ngak usah lah. Saya akan tangani sendiri.”

Saya merasa lebih bebas kalau menghabiskan waktu sedih saya sendirian, dengan cara saya sendiri. Kadang-kadang kalau sedang kesal, saya melakukan pekerjaan isik yang berat, sambil menahan kesal atau marah atau sedih.

Semua gambar dalam memori tentang Kim, mulai datang bergantian. Mulai dari saat kedatangannya yang pertama. Tidak banyak ekspresi yang bisa dia buat dengan wajahnya. Yang paling saya kenal adalah wajah meminta dikasihani, ditolong, atau dibantu. Suaranya bening, nyaring serta kekanak-kanakan. Belakangan suaranya agak berubah, mungkin karena memasuki usia tanggung.

Dia juga sangat aktif. Senang naik pohon, lemari, jendela atau rak buku. Beberapa kali jatuh. Tapi setiap kali jatuh, setelahnya dia segera bisa berjalan lagi dengan normal. Sebenarnya saya sangat khawatir dia mengalami retak tulang atau apa. Tapi sikapnya tidak menunjukan bahwa dia sudah terluka.

<>

Pasti ada orang iseng yang sudah menendang perutnya sehingga dia jatuh ke selokan dan membuat dia basah kuyup. Tendangan itu yang membuat diafragmanya rusak. Kim sudah sering jatuh sendiri dari ketinggian, tapi jalannya tetap tegak. Dia sangat alami, pasti dia punya mekanisme perlindungan diri dari luka karena jatuh. Jadi, luka pada diafragma ini pasti dibuat oleh serangan dari luar, dari orang, bukan terjadi waktu Kim jatuh sendiri. Kok orang bisa begitu tega? Apa salah Kim?

Dia pun sering jatuh sendiri ke got di depan rumah itu, tapi tidak pernah menyebabkan dia menjadi lemah dan meninggal seperti sekarang ini. Kalau air got itu begitu beracun sehingga kalau terminum bisa membuat meninggal, pasti Kim sudah sakit dan meninggal sejak dulu. Pasti kejatuhannya yang terakhir ini terjadi sewaktu diafragmanya sudah rusak. Dan kerusakan itu terjadi karena ditendang oleh orang.

Saya jadi mengutuk-ngutuk, entah kepada siapa.

<>

Agak siang, ada telepon lagi masuk.

“Bu Felicia, mungkin lebih baik saya saja yang membawa Kim pulang ke rumah Ibu. Saya sudah punya alamatnya.”

“Baik …” jawab saya singkat saja.

<>

“Ke belakang saja,” kata saya pada orang yang datang membawa Kim pulang. Lalu saya menunjuk ke halaman belakang. Disitu ada lubang yang tadi saya buat sendiri sambil menahan tangis. Tangan saya memberi isyarat agar Kim segera dimasukkan ke lubang itu.

“Tadi malam Kim sempat jalan sendiri. Tapi lalu tidur lagi, sampai meninggal.”

“Apakah infusnya dilanjutkan?”

“Tidak … pertimbangan saya … kalau diberi infus lagi maka kandung-kemihnya akan penuh air seni hasil metabolisme.”

Dalam pikiran saya … bagaimana Kim bisa bertahan kalau dia tidak mendapat asupan makanan. Tapi saya terlalu sedih untuk bisa berdebat.

Kim kini sudah kaku. Ditidurkan di tanah pada sisi kanannya. Mata yang kanan tertutup, yang kiri terbuka. Ada cairan keluar dari mulutnya. Pada dada kanannya, sebelah bawah, benjolan itu tampak lagi.

“Maafkan saya Kim … kalau saja saya ada disampingmu tadi malam tentu saya akan usap-usap benjolan itu sampai hilang, seperti kemarin,” saya berbisik.

Tanah pertama saya taburkan di atas mukanya. Saya tak ingin dia menatap saya selagi saya mengurug tubuhnya dengan tanah. Saya berbisik sambil bekerja dengan cangkul: “Saya beri kamu tanah paling subur Kim. Akan saya tanam bunga yang bagus di atas kuburanmu. Saya tidak ingin mengingat mukamu yang barusan. Saya ingin mengingat wajahmu yang kemarin, sebelum kamu tercebur di got. Dan juga wajah-wajahmu yang lain yang kamu tampakkan pada saya selama empat bulan kamu tinggal di rumah saya.”

<>

Empat bulan yang lalu Mingkem melahirkan tiga kucing kecil yang lucu. Mingkem sendiri entah kucing punya siapa, tapi dia sering datang ke rumah. Pembantu saya memberi nama dia Mingkem. Mingkem memilih sendiri tempat untuk melahirkan, yaitu di bawah tangga, di antara tumpukan koran lama. Saya beri nama anaknya Kim, Kum dan Kam. Seperti yang dikatakan orang, induk dan anak kucing itu berpindah tempat beberapa kali. Kadang-kadang Mingkem sendiri yang memilih tempat baru dan memindahkan anak-anaknya. Kadang-kadang saya yang memilihkan untuk mereka.

<>

Selamat jalan Kim. Mungkin nanti kita bertemu lagi. Seharusnya kita bisa bersama-sama lebih lama. Saya akan jaga dua saudaramu, Kum dan Kam.

Mingkem Kucing Kami


Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah satu pertanyaan dari anak bungsu saya, Wulan.

“Ayah … Ayah … boleh ‘kan Wulan memelihara kucing di rumah ?”

“Boleh …boleh … tapi ada syaratnya.”

“Apa tuh syaratnya ?”

“Kucing itu harus Wulan yang beri makan, eek dan kencingnya harus Wulan yang membersihkan, tempat tidurnya harus Wulan yang membersihkan. Semuanya tiap hari. Lalu, setiap hari Jumat kucing itu harus Wulan mandikan.”

“Aaah … tapi itu ‘kan bisa dikerjakan sama Mbok Nasem ?”

“Enak saja … Mbok Nasem sudah sangat sibuk mengurus Wulan sama Mbak Puspa. Mau disuruh mengurus kucing juga ? Bisa-bisa dia pulang kampung dan tidak kembali lagi.”

“Tapi Mbok Nasem juga senang sama kucing ini kok. Pasti dia tidak keberatan kalau mengurus kucing ini untuk Wulan. Malah Mbok Nasem sudah memberinya nama. Namanya Mingkem … Ayah. Bagus ‘kan?”

“Mingkem ? Kenapa dikasih nama Mingkem?”

“Tidak tahu … tapi kedengarannya bagus. Sudah seminggu kucing ini datang terus ke rumah kita. Kalau belum dikasih makan dia terus saja mengeong di depan pintu dapur kita. Suaranya keras sekali. Terus kata Mbok Nasem … mingkem kamu … mingkem kamu.”

“Oh itu sih bukan nama … tapi baiklah … kamu boleh pelihara Mingkem di rumah. Tapi kamu harus membantu Mbok Nasem supaya dia tidak terlalu repot. Tapi, ngomong-ngomong, apakah kucingnya mau kalau dikasih nama Mingkem? Maksud Ayah, mungkin dia sudah punya nama sendiri.”

“Eeeeh … Ayah saja yang tanya deh … Wulan tidak bisa bahasa kucing.”

“Mungkin kucing ini sudah ada yang punya.”

“Kalau sudah ada yang punya biasanya kucingnya memakai pita seperti kucing punya Tante Hutabarat. Wulan juga mau cari pita untuk Mingkem.”

Kejadian pemberian nama Mingkem pada kucing itu membuat saya banyak berpikir malam itu. Nama yang diberikan orang tua pada anaknya biasanya mengandung arti doa atau harapan. Sekarang, dalam kasus kucing ini, nama yang diberikan mengandung arti suruhan … stempel bertuliskan perintah … atau cap yang mengingatkan pada sifat jelek si penerima nama. Suatu penciptaan stigma.

<>

<>

Dua bulan telah berlalu. Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah teriakan dari Wulan.

“Ayah … Mingkem sudah melahirkan. Di bawah tangga. Anaknya tiga. Lucu-lucu deh … Ayah.”

“Seingat Ayah … Mingkem tidak punya suami.”

Ada dong. Suaminya itu bernama si Brewok. Mbok Nasem suka melihat mereka jalan bersama. Tapi kata Mbok Nasem si Brewok tidak boleh masuk rumah, habis tampangnya jelek dan badannya kotor.”

“Paling tidak Wulan harus tanya pada si Brewok apakah dia sudah punya nama untuk anaknya.”

“Eh Ayah ada-ada saja, masa kita harus tanya sama si Brewok soal nama. Ayah saja yang bicara sama si Brewok. Wulan dan Mbak Puspa sih sudah memberi nama untuk tiga anak kucing itu. Yang pertama Kum-kum, kedua Kam-kam, dan ketiga Kim-kim.”

“Membedakannya bagaimana?”

“Kim-kim itu punggungnya putih. Kam-kam dan Kum-kum punggungnya belang.”

“Lantas, membedakan Kam-kamdan Kum-kum bagaimana?”

“Kum-kum itu hidungnya hitam seperti punya kumis … seperti kumis Pak Satpam he … he … he.”

Dalam beberapa bulan topik pembicaraan di rumah selalu berkisar tentang tingkah polah Mingkem dan anak-anaknya. Perkembangan kebisaannya selalu diamati dan didiskusikan pada waktu acara makan bersama. Rumah terasa lebih hidup setelah Mingkem dan anak-anaknya hadir di rumah.

<>

Satu bulan lagi berlalu. Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah teriakan dari Wulan. Saya amati hal ini sudah menjadi pola tetap dalam beberapa bulan ini.

“Ayah … anak-anak si Mingkem ‘kan kurus-kurus. Kata Tante Hutabarat mereka banyak kutunya dan ada cacing di perutnya. Kita harus beli bedak kucing dan obat cacing … Ayah. Di Plaza ada tokonya. Ayah belikan … ya? Ayah juga ‘kan sayang sama anak-anak si Mingkem.”

“Oke … oke … tapi Ayah mau simpan dulu tas … minum teh … lalu mandi … baru Ayah akan pergi ke Plaza.”

“Hore … kita akan ke Plaza.”

“Rasanya Ayah tidak bilang mau mengajak kamu ke Plaza.”

“Kata Tante Hutabarat, si Mingkem harus diberi makanan bergizi, supaya sehat dan susunya banyak. Jadi anak-anaknya akan banyak minum susunya. Lama-lama mereka akan jadi gemuk. Di toko itu pasti ada makanan kucing juga ‘kan?”


Di sebuah pet shop di Plaza. “Wulan … Puspa … kalian lihat-lihat anak kucing di kandang sana. Ayah mau cari bedak dan makanan kucing di sebelah sini… oke? Habis dari sini nanti kita makan di McDonald.”

“Horeee … kita akan makan di McDonald.” Anak-anak sebenarnya baru makan di rumah, tapi ajakan untuk makan lagi tetap membuat mereka gembira. Kadang-kadang hal seperti ini membuat saya ragu pada the law of diminishing marginal return. Tingkat kegembiraan mereka ketika makan yang kedua, sama saja dengan waktu makan yang pertama.

<>

Dalam mobil, sepulang dari Plaza. Saya menyetir mobil, anak-anak tertidur di kursi belakang. Saya bergumam sendiri.

“Wulan … Puspa … kita sudah kenyang makan. Kita juga sudah punya makanan untuk kucing. Ayah akan berusaha supaya kalian tetap begitu.”

Bintaro, 25 Juli 2006

Meredupnya Pelita Inspirasi Sahrap


Sahrap sangat yakin bahwa otaknya bekerja seperti pemancar radio sedangkan otak orang lain bekerja sebagai pesawat penerima. Gagasan yang dia pikirkan akan terpancar keluar dan ditangkap oleh otak orang-orang sebagai inspirasi, untuk dilaksankan atau dicarikan rinciannya secara lebih ilmiah. Oleh karena itulah Sahrap giat memikirkan gagasan baru yang baik-baik, dengan harapan dunia di sekelilingnya akan berubah menjadi baik. Sangat dihindari oleh Sahrap, berpikir tentang gagasan jahat yang mencelakakan orang lain. Sahrap sangat khawatir, kalau sampai dia membuat gagasan jahat, gagasan ini akan menjadi inspirasi orang-orang untuk berbuat jahat.
Mulanya Sahrap tidak sadar bahwa dia punya kekuatan pemancaran seperti itu. Mula-mulanya dia menyangka kejadian-kejadian berikut ini hanya kebetulan saja terjadi. Pernah dia menuangkan gagasannya dalam beberapa tulisan pendek yang dia kirim ke maling list yang dia ikuti. Biasanya, tidak lama setelah itu, dalam surat kabar muncul berita tentang kegiatan yang dapat dikatakan pelaksanaan dari gagasan Sahrap. Misalnya, Sahrap pernah menuliskan gagasannya tentang gagasan tour jalan kaki menyusuri bangunan tua di kota B. Tak lama kemudian pemerintah daerah kota J meluncurkan program jalan-jalan menyusuri kota tua. Sahrap bisa menjamin bahwa gagasan dia adalah orisinil dan mucul dari dia sendiri, sama sekali bukan pengembangan dari gagasan orang lain.
Pernah juga Sahrap menulis gagasan mengenai diadakannya kegiatan joy flight dengan helikopter untuk mencari dana untuk kegiatan sosial. Selang sebulan setelah itu, Sahrap melihat balon raksasa melayang-layang di langit bertuliskan nama produk rokok yang baru diluncurkan. Pada balon tersebut dipasangi gondola yang bisa dimuati orang. Dengan membayar sejumlah besar uang, orang dapat terbang melihat kota J dari angkasa, dengan naik balon tersebut. Oleh pabrik rokok tersebut, uang yang diterima disumbangkan pada PMI. Semua sama-sama senang.
Sahrap pernah mengirim satu artikel ke surat kabar. Artikelnya membahas bencana lumpur panas kota S dari sudut eksternalitas sebagaimana dikenal dalam ilmu ekonomi. Artikel tersebut ditolak oleh surat kabar, tapi beberapa hari kemudian di surat kabar yang sama, muncul artikel mengenai eksternalitas yang ditulis oleh penulis yang mempunyai beberapa gelar profesi ditambah dengan kedudukan sebagai ketua asosiasi profesi. Sahrap mulanya merasa berang, tapi keinginannya untuk mengirim protes lewat surat pembaca diurungkan. Siapa pula yang akan percaya bahwa profesor doktor itu telah membajak gagasan Sahrap yang bukan apa-apa. Paling jauh orang-orang akan percaya bahwa ini hanya koinsidensi.
Begitulah mulanya. Sahrap menyangka orang-orang terinspirasi oleh tulisannya yang dia kirim ke maling list atau surat kabar. Belakangan terbukti bahwa penularan gagasan tidak hanya terjadi lewat maling list. Beberapa tulisan Sahrap, tidak dia kirim ke maling list, melainkan dia muat di blog pribadi yang terbuka untuk publik, tapi toh bisa menular juga gagasannya.
Di blog ini biasanya Sahrap menuliskan hasil perenungannya mengenai kejadian-kejadian aktual. Suatu kali dia membuat tulisan yang mengomentari mengenai peraturan pemerintah daerah kota J yang melarang warga memelihara unggas di wilayahnya. Sahrap menggambarkan peristiwa ini sebagai pakta non kohabitasi antara manusia dengan unggas. Selama ini kata “pakta” di hubungkan dengan kata “kohabitasi”. Dalam kasus unggas ini Sahrap membuat kreasi rangkaian-kata baru, yaitu frase “pakta non kohabitasi”. Dua hari setelah dia memuat perenungan ini dalam blog, muncul tulisan oleh seorang pengamat politik yang juga memakai frase “pakta non kohabitasi”.
Kali ini Sahrap mengambil sikap-hati yang lain dalam menerima hal seperti ini. Dia masih yakin bahwa pengamat politik tersebut terinspirasi oleh tulisannya. Bagaimana mungkin ada dua orang yang berjauhan tempatnya, tidak pernah ketemu, secara hampir bersamaan menemukan kombinasi tiga kata tersebut : “pakta”, “non” dan “kohabitasi”. Karena tulisan Sahrap dipublikasikan lebih dulu lewat blog, maka dapat dikatakan si pengamat politik itulah yang terinspirasi. Tinggal dicari buktinya bahwa si pengamat politik itu pernah singgah di blog milik Sahrap.
Sikap hati Sahrap sekarang adalah bahwa biarlah orang terinspirasi oleh tulisannya. Sahrap mengambil posisi sebagai pabrik gagasan. Biarlah orang-orang melanjutkan gagasannya itu dalam bentuk tulisan lain yang lebih ilmiah, atau dalam bentuk tindakan-tindakan yang merupakan penerapan dari gagasan Sahrap. Orang bijak bilang bahwa perbuatan baik dapat dilakukan dengan tangan, dengan ucapan, atau paling sedikit dengan doa saja. Sahrap ingin menambahkan bahwa menyusun gagasan yang baik pun sudah merupakan perbuatan baik. Gagasan yang baik adalah doa yang dirinci secara sistimatis, siap untuk disampaikan pada Yang Maha Kuasa agar mendapat persetujuannya, dan masih memerlukan langkah-langkah pelaksanaan agar dapat terwujud.
Peristiwa-peristiwa di atas terus berkembang dan merubah pendapat Sahrap tentang bagaimana caranya gagasan bisa menular. Ada satu kejadian yang memberi keyakinan pada Sahrap bahwa penularan gagasan itu bukan hanya lewat tulisan yang sudah dia publikasikan. Apapun yang masih ada dalam pikiran Sahrap, sudah bisa terpancar. Benar … hanya lewat pikiran. Sahrap yakin bahwa hampir satu waktu dengan saat Sahrap berpikir, dan atau saat Sahrap menuliskannya di laptop, maka sudah ada orang di bagian lain di dunia ini sudah terinspirasi oleh gagasan Sahrap. Tidak usah lewat tulisan. Ini terjadi setelah Sahrap terpaksa memutuskan langganan internet karena alasan keuangan. Jadi tak mungkin lagi ada orang menyadap laptop Sahrap lewat sambungan internet. Oleh karena itulah Sahrap menjadi yakin bahwa gagasan dapat memancar lewat otaknya seperti siaran radio memancar dari studio. Gelombang pancaran tersebut akan mencari otak-otak yang sedang diset pada panjang gelombang yang sama. Lalu akan terjadilah penularan gagasan.
Kejadiannya begini. Sahrap merasa sangat terganggu dengan cara pengendara motor menjalankan motornya. Sahrap berniat menyorot perilaku pengendara sepeda motor, khususnya tentang cara mereka memakai klakson. Dalam kepalanya, Sahrap sudah mereka-reka isi tulisannya. Dalam laptopnya Sahrap sudah membuat file dengan judul “Klakson Cap Tongkat Musa”. Frase “tongkat Musa” ditonjolkan oleh Sahrap karena amat cocok untuk menggambarkan cara para pengendara motor menggunakan klaksonnya. Setiap kali mereka menyalakan klakson, mereka mengharap semua kendaraan di depannya akan tersibak dan memberi jalan padanya. Ini persis seperti Musa yang memakai tongkatnya untuk menyibak air laut ketika dia ingin menyelamatkan umatnya.
File tersebut dibuat pada suatu hari Jumat. Pada hari Minggu setelahnya di surat kabar muncul tulisan kolom berjudul “Klakson”, dengan isi yang kurang lebih sama tapi dengan sudut pandang yang agak berbeda.
Seolah dituntun oleh tangan gaib, suatu kali Sahrap menonton satu film yang diputar di televisi yang menceritakan penelitian yang kesimpulannya membentuk sikap Sahrap yang terakhir. Penelitian tersebut dilakukan pada dua kelompok kera di satu pulau kecil. Pulau tersebut sebenarnya adalah satu gunung api yang muncul di tengah laut. Kelompok kera yang satu menempati satu kaki dari gunung tersebut. Sedangkan kelompok yang kedua menempati kaki lain dari gunung tersebut. Ada pemisah alami yang membuat dua kelompok kera tersebut tidak bisa berhubungan fisik antara yang satu dengan yang lain.
Satu hari, tim peneliti menemukan bahwa kelompok kera yang satu terlihat menemukan cara membuka buah kelapa, sehingga kera-kera itu bisa memakan isinya. Pada saat yang hampir sama, dalam kelompok kera yang lain terjadi pula hal yang sama, mereka menemukan cara membuka buah kelapa yang persis sama. Apakah ini suatu koinsidensi? Atau penyadapan lewat internet? Penelitinya bilang bahwa seolah terjadi komunikasi di antara dua kelompok kera itu, dari jarak jauh, dan tanpa alat, yang membuat kedua kelompok kera itu dapat saling menularkan kemampuannya.
Ada dua kejadian yang membuat Sahrap enggan memikirkan hal yang jelek-jelek, seperti bencana misalnya. Tapi kadang dia melakukannya tanpa sengaja. Suatu hari Sahrap menulis dan mengirim ke maling list, tulisan penuh canda tentang bagaimana disiplin ilmu dapat menyerap kebijaksanaan nenek moyang. Sahrap menganjurkan agar ahli teknik bisa membuat teknologi sedemikian sehingga air bisa mengalir di pipa dengan lancar seperti “air di daun keladi”. Mereka yang belajar manajemen sebaiknya mampu mengelola agar manusia bisa senantiasa produktif seperti yang diungkapkan peribahasa “duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak”. Lalu, mereka yang berprofesi sebagai penata wilayah sebaiknya mempertimbangkan resiko bencana alam di tiap tempat, sehingga “kalau takut dilebur pasang, jangan berumah di tepi pantai”. Beberapa bulan kemudian bencana tsunami melanda Aceh.
Yang terakhir adalah tulisan yang dimuat di blog, tentang pengalaman Sahrap yang tidak berhasil mendapat ruang untuk memarkir mobilnya di satu gedung parkir di kota J. Sahrap menulis bahwa dia harus mengemudi mobilnya mundur menuruni jalan dari lantai enam. Ini terjadi karena untuk memutar arah mobil saja pun tidak tersedia ruang. Ditulis oleh Sahrap bahwa dia sangat khawatir pantat mobilnya menabrak pagar pembatas lalu mobilnya jatuh dari lantai enam. Beberapa hari kemudian, di sebuah gedung parkir di kota J, ada sebuah mobil menabrak pagar pembatas sehingga jatuh dari lantai enam. Semua penumpangnya tewas seketika. Setelah itu Sahrap membuat rasionalisasi untuk menghilangkan rasa bersalah di hatinya : kejadian ini tidak terjadi karena inspirasi yang datang dari gagasan dia. Sahrap meyakinkan dirinya bahwa tulisannya lebih mungkin berlaku sebagai peringatan.
Koinsidensi, penularan inspirasi, atau pemancaran gagasan secara radio, atau peringatan, terus saja berlangsung. Sahrap pernah menulis pada laptop-nya, untuk persiapan kuliah yang dia berikan di satu sekolah tinggi teknik, tulisan mengenai macam-macam bentuk pemakaian sungai secara antroprologis. Beberapa minggu kemudian, muncul laporan perjalanan wartawan surat kabar yang selama berhari-hari menyusuri satu sungai besar di Pulau Jawa.
Kini Sahrap tergolek tidak berdaya di atas ranjangnya. Kanker sedang menggerogoti otaknya. Situasi keuangannya pun buruk karena dia terlalu keranjingan menulis, sehingga kurang menunjukkan kinerja di kantornya dan dia lalu kehilangan pekerjaan. Padahal tulisannya pun tidak menghasilkan uang. Tidak ada uang untuk berobat. Yang dia lakukan hanya memasrahkan dirinya pada Sang Pemilik Hidup. Yang paling dia sedihkan adalah karena dia jadi berhenti menulis. Siapa lagi yang akan menciptakan gagasan yang dapat memberi inspirasi pada orang-orang?
Satu hal yang masih ingin dibuktikan oleh Sahrap adalah apakah orang lain juga otaknya bisa bekerja seperti pemancar, sebagaimana terjadi padanya. Jika benar, maka Sahrap ingin menyerukan pada semua orang agar berhenti membuat gagasan buruk, karena walaupun hal itu masih dalam tahap dalam pikiran, pancarannya bisa menular ke banyak orang. Sahrap ingin semua orang di dunia berbuat yang sama seperti dia, berpikir yang baik-baik saja.
(Bintaro Jaya, 24 Juni 2007)

Top of Mind

JUDUL : TOP OF MIND
LOKASI : INT Ruangan wawancara tempat dilakukan riset konsumen
DURASI : 7 menit
CAST : VIRNIE (Periset 1), MIEKE (Periset 2), TIEKE (Pencari Responden dan Periset 3), AMING (Responden 1), TORA (Responden 2), INDRA (Responden 3), SOGI (Responden 4), RONY (Responden 5).

----------------------------------------------------------------------------

FADE IN

INT RUANGAN WAWANCARA

PERISET 1 dan PERISET 2 sedang duduk di kursi menghadap meja yang sama.
Inframe : PENCARI RESPONDEN berjalan bersama RESPONDEN 1. Lalu berhenti di tengah.

PENCARI RESPONDEN
Selamat sore Bapak.
Kami sedang mengadakan riset konsumen.
Bersediakah Bapak kami wawancara ... sebentaaaar saja.
Nanti kami beri hadiah.
(Gayanya manja dan membujuk)

RESPONDEN 1
Hadiahnya apa ?

PENCARI RESPONDEN
Sesuatu yang pasti Bapak perlukan.
Saya lihat dari muka Bapak, Bapak ini suka terlambat bangun tidur.
Untuk itu nanti Bapak akan kami beri hadiah sebuah jam dinding.
Bagaimana ?

RESPONDEN 1
Ooooh ... saya suka sekali jam dinding.
Ayo ... dimana wawancaranya?

PENCARI RESPONDEN
Di sini Pak. Silahkan duduk.
(Mempersilahkan duduk di depan PERISET 1 dan 2)

PERISET 1
(Setelah Responden 1 duduk)
Bapak ... kami ingin mengetahui
urutan posisi merek produk-produk yang dijual di masyarakat,
menurut persepsi konsumen.
Kami akan menyebut jenis produk ...
nanti Bapak sebutkan merek dari jenis produk tersebut ...
yang pertama kali muncul di pikiran Bapak.

RESPONDEN 1
Aaah ... itu mah gampang. Sok ... ajaaah

PERISET 2
Sabun mandi ...

RESPONDEN 1
Daun lamtoro ...

PERISET 1
Lho kok daun lamtoro sih ?

RESPONDEN 1
Saya memang biasa mandi dengan daun lamtoro sebagai sabunnya.
Kalau dalam bahasa Sunda namanya “dikasay”.

PERISET 2
Pasta gigi ...

RESPONDEN 1
Daun alang-alang ...

PERISET 1
Lho kok daun alang-alang ...

RESPONDEN 1
Sehari-sehari memang saya menyikat gigi dengan daun alang-alang.
Lihat saja gigi saya ... putih dan bersih kan.
(Menyeringai)

PERISET 2
Shampoo ...

RESPONDEN 1
Daun kelapa ...

PERISET 2
Pemutih kulit

RESPONDEN 1
Abu gosok ...

PERISET 2
Obat jerawat ...

RESPONDEN 1
Daun sirih ...

PERISET 1
Stop ... stop ... kenapa jadi ngaco begini sih?
Memangnya jerawat pake daun sirih bisa sembuh ?

RESPONDEN 1
Ya enggak sih.
Tapi kan tadi disitu nanyanya apa yang pertama kali muncul di pikiran saya.
Ya begitulah ...

PERISET 1
Baik ... pak. Ini jam dindingnya.
Terima kasih atas kerja samanya.

RESPONDEN 1
Asyiiik ...
(Sambil berdiri dari kursi)

RESPONDEN 1 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 2 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru lagi.
Silahkan duduk Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 2 masuk dan duduk)

PERISET 1
(Setelah RESPONDEN 2 duduk)
Bapak ... kami ingin mengetahui kesetiaan Bapak pada merek produk.
Kami mohon Bapak menjawab pertanyaan kami secara jujur.

RESPONDEN 2
Silahkan ... monggo ... siapa takut ...kebetulan nama saya memang Jujur P.

PERISET 2
Apa merek pasta gigi yang Bapak pakai tiga bulan yang lalu ?

RESPONDEN 2
Sogident.

PERISET 2
Memangnya ada merek seperti itu ? Rasanya baru dengar. Whatever ...
Apa merek pasta gigi yang sekarang Bapak pakai ?

RESPONDEN 2
Sogident juga ...

PERISET 1
Wah Bapak ini termasuk konsumen setia ...

RESPONDEN 2
Gak gitu-gitu amat sih.
Teman kost saya namanya Sogi ...
Selama ini ‘kan saya nebeng pakai pasta gigi dia terus.
Sogident artinya pasta gigi punya si Sogi.

PERISET 1
Apakah Bapak akan menyarankan orang lain ...
untuk menggunakan juga pasta gigi merek Sogident ?

RESPONDEN 2
Yaaa ... gak mungkin lah yauw.
Kasian si Sogi kalau semua orang pakai pasta gigi punya dia.
Habis dong.
Nanti saya gak kebagian ... gimana ?

PERISET 2
Sekarang kita pindah ke produk lain ... yaitu sabun mandi.
Apa merek sabun mandi yang Bapak pakai tiga bulan yang lalu ?

RESPONDEN 2
Sogisoap

PERISET 2
Pasti itu merek sabun yang dipakai oleh Sogi teman Bapak itu.
Dan ... pasti itu juga merek sabun yang Bapak pakai sekarang .. kan ?

RESPONDEN 2
Salaaah ... setelah mandi tiga bulan yang lalu ... saya belum mandi lagi.
Saya belum bisa menentukan merek apa yang akan saya pakai nanti.
Mungkin saja saya akan pakai sabun kamu .... Bolehkah saya mandi di rumahmu ?

PERISET 1
Stop ... stop ... stop ... saat ini kamilah yang bertanya.
Sedangkan Bapak hanya menjawab.
Tapi saya kira sudah cukup informasi dari Bapak.
Kami ucapkan terima kasih atas kerjasamanya ... ini jam dinding sebagai kenang-kenangan.

RESPONDEN 2 outframe
RESPONDEN 3 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden lagi.
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 3 untuk duduk)

PERISET 1
Bapak ... klien kami ingin mengetahui pendapat konsumen
mengenai pelayanan bank-bank yang ada di Indonesia, yang terjadi selama ini.
Kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

RESPONDEN 3
Kebetulan ... saya lagi banyak komplen soal bank.

PERISET 2
Komplennya apa Pak ?

RESPONDEN 3
Minggu lalu saya datang ke sebuah bank ...
eh semuanya pada diam ..
tidak ada yang mau melayani saya.

PERISET 2
Kenapa gak langsung komplen saja ke customer service ?

RESPONDEN 3
Sudah ... eh malah dia mengeluarkan kertas seperti ini ..
(Mengeluarkan kertas bertulisan : KAMI MELAYANI DENGAN HATI)

PERISET 2
Pantesan semua pada diam ... soalnya ... cuma hati mereka yang bekerja.
Terus ... apa lagi komplennya Pak ?

RESPONDEN 3
Bank itu kan seharusnya membuat saya jadi main kaya ...
faktanya malah membuat saya bangkrut.

PERISET 2
Bagaimana caranya sampai terjadi begitu ?

RESPONDEN 3
Kesempatan saya untuk datang ke bank kan cuma dari jam 12 – 13,
yaitu waktu istirahat kantor saya.
Eh ... ternyata pada waktu yang sama ... karyawan bank pun lagi istirahat.
Jadi saya harus nunggu sampai mereka selesai istirahat.
Dengan demikian saya jadi terlambat kembali ke kantor.
Boss saya jadi marah-marah.

PERISET 2
Kalau begitu ... pindah bank saja Pak.

RESPONDEN 3
Memang akhirnya saya pindah bank.
Bank yang satu lagi karyawannya memang tidak istirahat pada jam 12 – 13.
Tapi antrinya lama sekali ... minta ampun.
Saya dimarahin lagi oleh Boss karena terlambat lagi.
Saya dua kali membuat perusahaan gagal ikut tender.
Saya dipecat ... sekarang saya jadi gelandangan tanpa pekerjaan ...
tanpa penghasilan... hik ... hik ... hik
(Menangis)

PERISET 1
Cup ... cup ... sudah ... sudah ... jangan nangis ... ini jam dinding untuk hadiah
(Memberikan jam dinding)

RESPONDEN 3 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 4 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru.
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 4 untuk duduk, lalu outframe)

PERISET 1
Bapak ... klien kami ingin mengetahui mengenai tingkat kepuasan konsumen
mengenai Departement Store Dasamuka pada khususnya
dan Departement Store pada umumnya.
Untuk itu, kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami

RESPONDEN 4
Setahu saya ... yang namanya Departement Store itu bukan Dasamuka ... tapi ... mh mh mh mh ...
(Tidak mau mengatakan namanya)

PERISET 2
Dasamuka itu kan lawannya ... mh mh mh mh
Jadi Bapak bersedia ‘kan kalau kami wawancara ?

RESPONDEN 4
Boleh saja ... silahkan.
(Tapi mukanya jadi muram)

PERISET 2
Kapan Bapak terakhir mengujungi Departement Store ?

RESPONDEN 4
Minggu lalu ...
(Wajahnya makin muram)

PERISET 2
Departement Store yang mana ?

RESPONDEN 4
Departement Store itu tadi ... mh mh mh mh ..hik... hik ... hik
(Menangis)

PERISET 2
Bapak mendapat ketidak-puasan di sana ?

RESPONDEN 4
Saya sangat kecewa disana.

PERISET 2
Apa yang membuat Bapak kecewa disana ? Tempat parkir susah ?

RESPONDEN 4
Bukan ...

PERISET 2
Tempatnya kotor ?

RESPONDEN 4
Juga bukan ...

PERISET 2
Satpamnya tidak ramah mungkin ?

RESPONDEN 4
Bukan pula ....

PERISET 2
Jadi apa ?

RESPONDEN 4
Saya ... saya ... diputusin sama pacar saya disana ...
(Nangisnya makin heboh)

PERISET 1
Mieke ... kamu yang membuat dia menangis ... jadi kamu yang bertanggung jawab .
Sekarang antarkan dia keluar ... dan bujuk dia sampai nangisnya berhenti.

RESPONDEN 4 menyandarkan kepalanya ke bahu PERISET 2 sambil menangis.
PERISET 2 membujuk-bujuk.
PERISET 2 dan RESPONDEN 4 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 5 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru. Lho Virnie ... Mieke kemana ?
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 5 untuk duduk)

PERISET 1
Mieke sedang keluar mengantar responden yang tadi.
Kamu gantikan dia sekarang.
(PENCARI RESPONDEN duduk di kursi bekas PERISET 2)

PERISET 1
Bapak ... klien kami sebentar lagi akan meluncurkan produk baru berupa mi goreng.
Kami ditugaskan untuk menjajagi respon calon konsumen.
Kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

RESPONDEN 5
Aku sih ... oke-oke saja

PERISET 1
Di depan Bapak ada tiga piring mi goreng.
Bapak akan kami minta untuk mencicipinya,
lalu kami akan minta komentar Bapak.

RESPONDEN 5
Wah kebetulan ... saya sedang lapar ...

PERISET 1
Saya katakan sekali lagi ... Bapak hanya mencicipi.
Oke ?

PERISET 3
Menurut Bapak ... mana dari tiga piring mi goreng itu ... yang paling terasa bumbunya ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu.
Menyuapkannya ke mulut.
Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling terasa bumbunya ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling terasa bumbunya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ...
mana dari tiga mi goreng itu ...
yang paling enak mi-nya?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu.
Menyuapkannya ke mulut.
Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling enak ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling enak mi-nya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ...
mana dari tiga mi goreng itu ...
yang paling menarik warna-nya ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu.
Menyuapkannya ke mulut.
Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Saya bertanya mengenai warnanya ... jadi cukup dilihat saja ... tidak usah dicicipi.
Tidak usah dimakan.
Mi yang mana yang paling menarik warnanya?

RESPONDEN 5
Tapi ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling menarik warnanya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ...
mana dari tiga mi goreng itu ... yang paling renyah ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu.
Menyuapkannya ke mulut.
Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling renyah ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...
(Muka kecewa berat ... marah ...)

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling renyah mi-nya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Oke ... dengan demikian riset dianggap selesai.
Kami ucapkan terima kasih atas ....

RESPONDEN 5
(Marah dan berteriak )
Waaaaaaaa .... aku tak terima.
Aku harus makan semua mi iniiiii ...
(Secara serabutan tiga piring mi itu dimakan dengan lahap.
Sementara itu PERISET 1, PERISET 3 menjauh karena takut)

FADE OUT