Tuesday, May 13, 2008

Ada Tempat di Masyarakat bagi Mereka yang Terhambat

Dalam dua bulan terakhir saya beberapa kali lewat di jalan raya lama Jakarta – Bogor. Di antara simpangan ke Cijantung dan simpangan ke Ciracas, ada simpangan kekiri. Jalannya kecil saja. Disitu saya melihat seorang mat cepek laki-laki mengatur arus mobil yang masuk dan ke luar dari jalan kecil tersebut. Yang dimaksud mat cepek adalah orang swasta yang berinisiatif mengatur lalu lintas di simpangan tanpa lampu lalu-lintas, agar semua kendaraan mempunyai kesempatan untuk lewat tanpa harus menunggu terlalu lama.

Yang membuat saya tertarik adalah kondisi orang tersebut yang cacat. Kaki dari lutut ke bawah, tidak tumbuh secara sempurna. Di ujung kakinya masih terlihat beberapa jarinya menyembul. Mungkin dia korban thaledomit, folio atau yang lain. Sebetulnya dengan tinggi badan dia yang sama dengan anak-anak berumur 10 tahun, orang itu sulit terlihat oleh pengendara mobil karena penglihatan pengendara mobil terhalang dashboard atau kap mesin (kalau mobilnya sedan). Dengan demikian, mat cepek ini mempunyai potensi lebih tinggi untuk tertabrak.

Saya beberapa kali melihat mobil berhenti lalu ada orang turun memberi laki-laki itu sejumlah uang, walaupun mobil itu sebenarnya tidak terlalu dibantu olehnya.

Penemuan ini menambah penemuan-penemuan saya sebelumnya, berkenaan dengan kasus sejenis. Di Jl. Tendean, Jakarta, tepatnya di tempat parkir Sekolah Tarakanita, saya suka melihat tukang parkir yang hanya mempunyai satu tangan. Area itu selalu ramai sewaktu anak-anak sekolah baru datang, dan sewaktu mereka mau pulang. Sekolah ini memang cukup diminati oleh warga kaya di Ibukota untuk menyekolahkan anaknya, buktinya banyak mobil yang datang mengantar dan menjemput anak sekolah. Padahal lahan parkir bisa dikatakan tidak ada, dan yang selama ini banyak dipakai untuk parkir adalah area milik jalan. Jadi sebenarnya agak sulit menemukan ruang untuk parkir. Oleh karena itulah peran tukang parkir cukup penting, yaitu untuk mengatur letak mobil agar pemakaian lahan seefisien mungkin, dan membantu agar pengendara mobil dapat masuk dan keluar dengan mudah.

Di satu vetshop sekitar McDonald Kemang, juga ada tukang parkir bertangan satu. Lahan parkir disini memang sempit. Mungkin hanya cukup untuk tiga atau empat mobil. Peranan tukang parkir disini antara lain adalah untuk pasang badan agar arus mobil dari arah McDonald bisa ditahan, sedemikian sehingga mobil yang mau belanja di vetshop dapat masuk dan keluar dari lahan parkir dengan mudah.

Saya jadi mempunyai kesimpulan awal bahwa masyarakat kita sebenarnya cukup bersahabat terhadap orang cacat. Terbukti beberapa orang cacat bisa mencari nafkah di jalanan. Dalam masyarakat yang tidak bersahabat, saya bayangkan kedudukan tiga orang cacat yang saya sebutkan tadi sudah direbut oleh orang beranggota badan lengkap. Masih banyak di negara kita orang yang beranggota badan lengkap, yang tidak mempunyai pekerjaan. Mereka bisa saja mengusir orang cacat itu dan lalu merebut pekerjaannya. Tapi ternyata tidak begitu.

Di satu bagian di Jakarta mungkin berlaku ”survival of the physical fittest”. Di bagian lain orang cacat bisa survive dengan caranya sendiri.

Saya pernah melihat pegawai Kentucky Fried Chicken yang pincang kakinya. Dia tidak melayani pembeli memang. Mungkin dia bekerja di dapur. Saya cuma melihatnya berjalan di antara meja-meja tempat pembeli sedang makan.

Mungkin juga ada perusahaan lain yang punya kebijakan untuk menerima orang cacat dalam satu kuota tertentu. Mungkin cuma saya saja yang belum melihatnya. Di Dunkin Donut misalnya, yang saya lihat hanya pelayan wanita dengan postur tubuh sempurna seperti pramugari. Di belakang rak-rak berisi donat mungkin ada orang cacat sedang bekerja.

<>

Saat ini perusahaan-perusahaan yang sudah maju, sudah biasa mendeskripsikan kebutuhan kompetensi jabatan. Berdasarkan kebutuhan kompetensi jabatan ini, lalu direkrut calon pegawai. Kalau kondisi fisik tidak menghalangi kompetensi yang diperlukan, kenapa harus menolak orang cacat?

Atau bisa juga dirancang beberapa jabatan yang tidak memerlukan kondisi fisik sempurna, demi untuk memberi kuota pada saudara-saudara kita yang cacat fisik. Ada satu perusahaan di Indonesia yang mayoritas karyawannya adalah orang cacat. Beberapa waktu yang lalu pengusahanya mendapat penghargaan internasional atas usahanya tersebut.

<>

Seorang profesor ahli agribisnis yang tinggal di Bogor, pernah menggerutu di depan mahasiswanya. Dia berkali-kali melihat orang beranggota badan sempurna menuntun orang buta, atau menggendong orang lumpuh, dan mereka meminta-minta sedekah di jalan. Dia bilang mengapa orang-orang yang beranggota badan lengkap tersebut tidak bekerja saja dan hasilnya dapat dipakai untuk menafkahi temannya yang cacat itu. Sebagai seorang ahli agribisnis rupanya dia tidak bisa menerima kalau seorang penganggur beralasan bahwa ”tidak ada lowongan kerja bagi dia”. Mungkin bagi pak profesor, tanah air kita mempunyai banyak lahan yang menunggu untuk diolah dan diusahakan, yaitu usaha dalam bidang agribisnis tepatnya. Mereka harus membuka lowongan kerja sendiri, bukan menunggu lowongan kerja datang dari orang lain.

Masih di Bogor, saya pernah melihat ketika lalu lintas sedang macet di sekitar Gunung Mas, ada orang cacat pada keempat anggota badannya sedang meminta-minta. Kalu dia bergerak, sekilas terlihat seperti laba-laba raksasa sedang berjalan dari mobil ke mobil. Surprisenya, di hari yang lain sekitar lima pengemis dengan cacat yang persis sama, berkerumun di lampu merah Gadog, menunggu belas kasihan dari pengendara mobil yang akan keluar dari jalan tol Jagorawi. Saya harus merasa surprise karena kok bisa begitu banyak manusia laba-laba yang tinggal di antara Gadog dan Puncak. Saya asumsikan mereka bukan orang dari jauh yang diangkut oleh semacam koordinator (sekaligus kolektor manusia laba-laba) untuk melakukan pekerjaan mengemis di antara Gadog – Puncak.

Saturday, May 10, 2008

Kim

Hari Senin, sekitar pukul 7. Telepon berdering.

“Bisa bicara dengan Ibu Felicia?”

“Saya sendiri …”

“Saya dari klinik … mau mengabarkan … Kim tidak bisa bertahan. Sekitar pukul 1 tadi malam dia pergi.”

“………,” saya kehilangan kata-kata.

“Ibu bisa ke klinik untuk melihatnya.”

“Ya …. saya akan segera kesana.”

<>

Kemarin sore dia berjalan perlahan menuju pintu dapur. Tubuhnya basah.

“Ya ampun Kim … apa yang terjadi? Kamu jatuh ya?” Saya cepat meraih handuk, lalu melilitkannya di tubuh Kim.

Kim duduk di lantai dekat pintu dapur. Saya bisa melihat benjolan sebesar telor bebek di dadanya, sebelah kanan bagian bawah. Saya jadi ikut duduk di dekatnya. Kuraba benjolan itu … terasa keras. Badannya menggigil, lalu menyenderkan badannya ke badan saya … berusaha menghangatkan badannya.

Tanpa mengerang dia berdiri lalu berjalan masuk ke rumah. Dengan susah payah dia naik ke sofa, dia merebahkan badannya disitu. Air di tubuhnya sudah pindah ke baju, ke celana, ke handuk, ke sofa. Mungkin air sudah mengambil kehangatan dari tubuhnya. Tubuhnya makin dingin. Kutawari dia minuman hangat, dia hanya diam. Mungkin benjolan di dadanya itu yang membuat dia enggan minum. Ya Tuhan … apa yang harus saya lakukan?

“Katakanlah Kim … apa yang terasa?”

Tanganku secara reflek megusap-ngusap benjolan itu ke arah bawah. Pelahan-lahan benjolan mengecil dan menghilang seperti masuk ke rongga perut.

Susah sekali menebak perasaan Kim, dia tidak mengeluh. Ekspresi wajahnya tetap sama. Apakah merasa lebih baik? Lebih buruk? Atau tetap? Tapi badannya makin dingin.

“Oke Kim … saya akan membawamu ke dokter.”

<>

“Suhu badannya sangat dingin. Termometer saya sampai tidak bergerak penunjukannya.”

“Hipotermia?” tanya saya sekenanya. “Tadi ada benjolan sekitar sini dok,” saya menunjuk sambil memberi gambaran dengan telunjuk tentang ukuran benjolan itu. Dokter lalu meraba bekas tempat benjolan itu, sementara tangan yang satunya lagi meraba bagian dada di sebelah yang lain. Dia tampak seperti membandingkan jumlah tulang iga di sebelah kiri dan kanan.

“Kayaknya tulang iganya patah. Saya anjurkan Ibu bawa Kim besok pagi ke rekan dokter senior saya, mungkin harus dibedah. Coba saya konsultasi dulu sama dia.” Dia lalu berusaha menghubungi rekannya itu, tapi mungkin pada hari Minggu dokter memakai nomer telepon yang lain. Hubungan tidak tersambung. Lalu dokter meraba dada Kim lagi.

“Saya foto ronsen dulu ya Bu.” Lalu dia keluar berjalan ke kamar sebelah, menyiapkan sesuatu sekitar 10 menit, lalu kembali.

“Oke Kim … difoto dulu.” Kami semua menuju ke kamar sebelah.

Setelah difoto, dokter memasang alat infus. Lalu dia keluar kamar untuk memproses foto ronsen. Saya mengusap-ngusap badan Kim yang tergolek kembali di meja pemeriksaan, berharap bisa memberi kehangatan pada Kim. Kotoran dari air got sebagian sudah pindah ke tangan saya … biarlah.

“Jangan sakit Kim. Kamu satu-satunya temanku.”

<>

“Ibu Felicia, dengan memperhatikan foto ronsen ini saya cukup yakin ada beberapa tulang iga Kim sudah patah atau hilang. Lalu diafragma Kim kemungkinan besar telah rusak. Jadi benjolan yang tadi Ibu lihat kemungkinan besar itu organ tubuh dari rongga perut. Lalu, karena diafragma rusak maka tekanan di rongga dada menjadi turun sehingga paru-paru sulit bekerja.”

“Kapan kira-kira patahnya atau hilangnya terjadi. Dan apa biasanya penyebabnya?”

“Sulit untuk memperkirakan kapan terjadinya dan apa penyebabnya kalau hanya dilihat dari luar. Tapi bisa disebabkan oleh benturan.”

“Saya anjurkan Kim tinggal dulu disini supaya bisa awasi. Jadi kalau ada apa-apa saya bisa segera ambil tindakan. ”

Dengan berat hati saya tinggalkan Kim. “Saya tinggalkan kamu disini bukan karena saya tidak sayang, tapi karena kamu akan ditangani oleh ahlinya. Besok saya kesini,” saya berbisik sambil mengusap kepalanya. Matanya yang terpejam, tidak membuka ketika saya pergi. Napasnya berat tapi ada.

<>

Kim biasanya menemani saya melewatkan waktu siang saat saya sendiri di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selagi saya menyetrika, saya biasa mendiskusikan cerita sinetron dengan Kim, atau membicarakan kabar-kabar tentang pribadi artisnya.

Kalau saya sedang duduk di sofa menonton tv, kadang-kadang dia ikut duduk. Sering terjadi, dia pelan-pelan menyentuhkan hidungnya ke tangan, lalu bergerak ke atas. Kalau sudah sampai ke leher biasanya saya mengibaskan tangan sambil berteriak mengusirnya :” Kim .. berhenti … geli. Kamu tidak sopan.” Kalau sudah diperlakukan seperti itu, dia lalu menghadapkan wajahnya ke tv. Tapi entah dia menontonnya atau apa.

Kalau suami saya sedang tidak mau diganggu dia, dia biasanya disuruh main di halaman, lalu pintu ditutup. Kalau hari sedang tidak begitu nyaman, biasanya dia datang ke jendela yang ada di samping meja tempat saya biasa mengetik. Dia tidak mengetuk jendela, tapi hanya berdiri di luar sambil memperlihatkan ekspresi minta dikasihani. Kalau sudah begitu saya tutup pintu kamar kerja saya, lalu saya biarkan dia masuk kamar lewat jendela. Saya biarkan dia bermain di dalam kamar. Dengan secarik kertas, atau sebuah kantong plastik dia bisa melewatkan waktu berjam-jam.

<>

Saya mengirim sms ke suami saya. Pendek saja, takut mengganggu konsentrasi dia dalam bekerja. “Mas, Kim meninggal.” Lalu dia membalas. “Kamu bisa menanganinya sendiri? Atau saya harus pulang?”. Saya balas lagi, “Ngak usah lah. Saya akan tangani sendiri.”

Saya merasa lebih bebas kalau menghabiskan waktu sedih saya sendirian, dengan cara saya sendiri. Kadang-kadang kalau sedang kesal, saya melakukan pekerjaan isik yang berat, sambil menahan kesal atau marah atau sedih.

Semua gambar dalam memori tentang Kim, mulai datang bergantian. Mulai dari saat kedatangannya yang pertama. Tidak banyak ekspresi yang bisa dia buat dengan wajahnya. Yang paling saya kenal adalah wajah meminta dikasihani, ditolong, atau dibantu. Suaranya bening, nyaring serta kekanak-kanakan. Belakangan suaranya agak berubah, mungkin karena memasuki usia tanggung.

Dia juga sangat aktif. Senang naik pohon, lemari, jendela atau rak buku. Beberapa kali jatuh. Tapi setiap kali jatuh, setelahnya dia segera bisa berjalan lagi dengan normal. Sebenarnya saya sangat khawatir dia mengalami retak tulang atau apa. Tapi sikapnya tidak menunjukan bahwa dia sudah terluka.

<>

Pasti ada orang iseng yang sudah menendang perutnya sehingga dia jatuh ke selokan dan membuat dia basah kuyup. Tendangan itu yang membuat diafragmanya rusak. Kim sudah sering jatuh sendiri dari ketinggian, tapi jalannya tetap tegak. Dia sangat alami, pasti dia punya mekanisme perlindungan diri dari luka karena jatuh. Jadi, luka pada diafragma ini pasti dibuat oleh serangan dari luar, dari orang, bukan terjadi waktu Kim jatuh sendiri. Kok orang bisa begitu tega? Apa salah Kim?

Dia pun sering jatuh sendiri ke got di depan rumah itu, tapi tidak pernah menyebabkan dia menjadi lemah dan meninggal seperti sekarang ini. Kalau air got itu begitu beracun sehingga kalau terminum bisa membuat meninggal, pasti Kim sudah sakit dan meninggal sejak dulu. Pasti kejatuhannya yang terakhir ini terjadi sewaktu diafragmanya sudah rusak. Dan kerusakan itu terjadi karena ditendang oleh orang.

Saya jadi mengutuk-ngutuk, entah kepada siapa.

<>

Agak siang, ada telepon lagi masuk.

“Bu Felicia, mungkin lebih baik saya saja yang membawa Kim pulang ke rumah Ibu. Saya sudah punya alamatnya.”

“Baik …” jawab saya singkat saja.

<>

“Ke belakang saja,” kata saya pada orang yang datang membawa Kim pulang. Lalu saya menunjuk ke halaman belakang. Disitu ada lubang yang tadi saya buat sendiri sambil menahan tangis. Tangan saya memberi isyarat agar Kim segera dimasukkan ke lubang itu.

“Tadi malam Kim sempat jalan sendiri. Tapi lalu tidur lagi, sampai meninggal.”

“Apakah infusnya dilanjutkan?”

“Tidak … pertimbangan saya … kalau diberi infus lagi maka kandung-kemihnya akan penuh air seni hasil metabolisme.”

Dalam pikiran saya … bagaimana Kim bisa bertahan kalau dia tidak mendapat asupan makanan. Tapi saya terlalu sedih untuk bisa berdebat.

Kim kini sudah kaku. Ditidurkan di tanah pada sisi kanannya. Mata yang kanan tertutup, yang kiri terbuka. Ada cairan keluar dari mulutnya. Pada dada kanannya, sebelah bawah, benjolan itu tampak lagi.

“Maafkan saya Kim … kalau saja saya ada disampingmu tadi malam tentu saya akan usap-usap benjolan itu sampai hilang, seperti kemarin,” saya berbisik.

Tanah pertama saya taburkan di atas mukanya. Saya tak ingin dia menatap saya selagi saya mengurug tubuhnya dengan tanah. Saya berbisik sambil bekerja dengan cangkul: “Saya beri kamu tanah paling subur Kim. Akan saya tanam bunga yang bagus di atas kuburanmu. Saya tidak ingin mengingat mukamu yang barusan. Saya ingin mengingat wajahmu yang kemarin, sebelum kamu tercebur di got. Dan juga wajah-wajahmu yang lain yang kamu tampakkan pada saya selama empat bulan kamu tinggal di rumah saya.”

<>

Empat bulan yang lalu Mingkem melahirkan tiga kucing kecil yang lucu. Mingkem sendiri entah kucing punya siapa, tapi dia sering datang ke rumah. Pembantu saya memberi nama dia Mingkem. Mingkem memilih sendiri tempat untuk melahirkan, yaitu di bawah tangga, di antara tumpukan koran lama. Saya beri nama anaknya Kim, Kum dan Kam. Seperti yang dikatakan orang, induk dan anak kucing itu berpindah tempat beberapa kali. Kadang-kadang Mingkem sendiri yang memilih tempat baru dan memindahkan anak-anaknya. Kadang-kadang saya yang memilihkan untuk mereka.

<>

Selamat jalan Kim. Mungkin nanti kita bertemu lagi. Seharusnya kita bisa bersama-sama lebih lama. Saya akan jaga dua saudaramu, Kum dan Kam.

Mingkem Kucing Kami


Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah satu pertanyaan dari anak bungsu saya, Wulan.

“Ayah … Ayah … boleh ‘kan Wulan memelihara kucing di rumah ?”

“Boleh …boleh … tapi ada syaratnya.”

“Apa tuh syaratnya ?”

“Kucing itu harus Wulan yang beri makan, eek dan kencingnya harus Wulan yang membersihkan, tempat tidurnya harus Wulan yang membersihkan. Semuanya tiap hari. Lalu, setiap hari Jumat kucing itu harus Wulan mandikan.”

“Aaah … tapi itu ‘kan bisa dikerjakan sama Mbok Nasem ?”

“Enak saja … Mbok Nasem sudah sangat sibuk mengurus Wulan sama Mbak Puspa. Mau disuruh mengurus kucing juga ? Bisa-bisa dia pulang kampung dan tidak kembali lagi.”

“Tapi Mbok Nasem juga senang sama kucing ini kok. Pasti dia tidak keberatan kalau mengurus kucing ini untuk Wulan. Malah Mbok Nasem sudah memberinya nama. Namanya Mingkem … Ayah. Bagus ‘kan?”

“Mingkem ? Kenapa dikasih nama Mingkem?”

“Tidak tahu … tapi kedengarannya bagus. Sudah seminggu kucing ini datang terus ke rumah kita. Kalau belum dikasih makan dia terus saja mengeong di depan pintu dapur kita. Suaranya keras sekali. Terus kata Mbok Nasem … mingkem kamu … mingkem kamu.”

“Oh itu sih bukan nama … tapi baiklah … kamu boleh pelihara Mingkem di rumah. Tapi kamu harus membantu Mbok Nasem supaya dia tidak terlalu repot. Tapi, ngomong-ngomong, apakah kucingnya mau kalau dikasih nama Mingkem? Maksud Ayah, mungkin dia sudah punya nama sendiri.”

“Eeeeh … Ayah saja yang tanya deh … Wulan tidak bisa bahasa kucing.”

“Mungkin kucing ini sudah ada yang punya.”

“Kalau sudah ada yang punya biasanya kucingnya memakai pita seperti kucing punya Tante Hutabarat. Wulan juga mau cari pita untuk Mingkem.”

Kejadian pemberian nama Mingkem pada kucing itu membuat saya banyak berpikir malam itu. Nama yang diberikan orang tua pada anaknya biasanya mengandung arti doa atau harapan. Sekarang, dalam kasus kucing ini, nama yang diberikan mengandung arti suruhan … stempel bertuliskan perintah … atau cap yang mengingatkan pada sifat jelek si penerima nama. Suatu penciptaan stigma.

<>

<>

Dua bulan telah berlalu. Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah teriakan dari Wulan.

“Ayah … Mingkem sudah melahirkan. Di bawah tangga. Anaknya tiga. Lucu-lucu deh … Ayah.”

“Seingat Ayah … Mingkem tidak punya suami.”

“Ada dong. Suaminya itu bernama si Brewok. Mbok Nasem suka melihat mereka jalan bersama. Tapi kata Mbok Nasem si Brewok tidak boleh masuk rumah, habis tampangnya jelek dan badannya kotor.”

“Paling tidak Wulan harus tanya pada si Brewok apakah dia sudah punya nama untuk anaknya.”

“Eh Ayah ada-ada saja, masa kita harus tanya sama si Brewok soal nama. Ayah saja yang bicara sama si Brewok. Wulan dan Mbak Puspa sih sudah memberi nama untuk tiga anak kucing itu. Yang pertama Kum-kum, kedua Kam-kam, dan ketiga Kim-kim.”

“Membedakannya bagaimana?”

“Kim-kim itu punggungnya putih. Kam-kam dan Kum-kum punggungnya belang.”

“Lantas, membedakan Kam-kamdan Kum-kum bagaimana?”

“Kum-kum itu hidungnya hitam seperti punya kumis … seperti kumis Pak Satpam he … he … he.”

Dalam beberapa bulan topik pembicaraan di rumah selalu berkisar tentang tingkah polah Mingkem dan anak-anaknya. Perkembangan kebisaannya selalu diamati dan didiskusikan pada waktu acara makan bersama. Rumah terasa lebih hidup setelah Mingkem dan anak-anaknya hadir di rumah.

<>

Satu bulan lagi berlalu. Mobil baru berhenti di garasi, dan saya baru turun dari mobil, sambutan pertama untuk saya adalah teriakan dari Wulan. Saya amati hal ini sudah menjadi pola tetap dalam beberapa bulan ini.

“Ayah … anak-anak si Mingkem ‘kan kurus-kurus. Kata Tante Hutabarat mereka banyak kutunya dan ada cacing di perutnya. Kita harus beli bedak kucing dan obat cacing … Ayah. Di Plaza ada tokonya. Ayah belikan … ya? Ayah juga ‘kan sayang sama anak-anak si Mingkem.”

“Oke … oke … tapi Ayah mau simpan dulu tas … minum teh … lalu mandi … baru Ayah akan pergi ke Plaza.”

“Hore … kita akan ke Plaza.”

“Rasanya Ayah tidak bilang mau mengajak kamu ke Plaza.”

“Kata Tante Hutabarat, si Mingkem harus diberi makanan bergizi, supaya sehat dan susunya banyak. Jadi anak-anaknya akan banyak minum susunya. Lama-lama mereka akan jadi gemuk. Di toko itu pasti ada makanan kucing juga ‘kan?”


Di sebuah pet shop di Plaza. “Wulan … Puspa … kalian lihat-lihat anak kucing di kandang sana. Ayah mau cari bedak dan makanan kucing di sebelah sini… oke? Habis dari sini nanti kita makan di McDonald.”

“Horeee … kita akan makan di McDonald.” Anak-anak sebenarnya baru makan di rumah, tapi ajakan untuk makan lagi tetap membuat mereka gembira. Kadang-kadang hal seperti ini membuat saya ragu pada the law of diminishing marginal return. Tingkat kegembiraan mereka ketika makan yang kedua, sama saja dengan waktu makan yang pertama.

<>

Dalam mobil, sepulang dari Plaza. Saya menyetir mobil, anak-anak tertidur di kursi belakang. Saya bergumam sendiri.

“Wulan … Puspa … kita sudah kenyang makan. Kita juga sudah punya makanan untuk kucing. Ayah akan berusaha supaya kalian tetap begitu.”

Bintaro, 25 Juli 2006